ADA LIMBAH B3 (MERCURI) DARI LAHAN PENGOLAHAN EMAS DI DESA DADAP KUNING KECAMATAN CERME KABUPATEN GRESIK

Gresik Jawa Timur, Media RAJAWALISIBER – Beberapa hari yang lalu team Investigasi RAJAWALISIBER kedatatang beberapa warga Desa Dadap Kuning Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik yang menyampaikan ke Direktur PT Rajawali Alam Semesta Media yang juga sebagai Pimpinan Media www.rajawalisiber.com , mereka menyampaikan di daerahnya ada limbah B3 dari Pengolahan emas, dan informasi tersebut ditindaklanjuti dengan menerjunkan team Investigasi ke lokasi,

 

Hasil temuan Team Investigasi di lokasi tersebut ada limbah B3 dari sebuah Gudang pengolahan Limbah dari Pabrik Emas dan limbah tersebut diolah kembali dengan di proses menggunakan bahan kimia tertentu sehingga menjadi Emas lantakan, informasi terpacaya tersebut di dapat oleh team Investigasi RAJAWALISIBER,

 

Berikut adalah beberapa jenis limbah dari pabrik perhiasan emas (kemasan) yang dapat di olah untuk di ekstraksi kandungan logam berharganya:

1. Debu polesan
2. Debu sapuan ruangan pengrajin
3. Lumpur Septic Tank yang berasal dari ruangan pengrajin
4. Air Bombing
5. Gips Cetakan
6. Karbon Cetakan
7. Kowi sisa pembakaran
8. Sampah yang berasal dari dalam pabrik.

beberapa item di atas ada yang paling prospek untuk di olah kembali.

Walaupun item-item yang saya sebutkan di atas akan terdengar aneh bagi anda yang awam akan tetapi item-item tersebut benar mengandung emas dan logam- logam lain ( perak, palladium, platinum dll) yang sangat menguntungkan bila di olah.

seharusnya pabrik pengolahan emas mempunyai tailing storage facility (TSF), dan agar penurunan risiko lingkungan melalui ekspansi lahan tailing berkurang, dan SNI pengolahan tailing harus terpenuhi. Untuk tahun tahun sekarang ini pengelolaan tailing lebih banyak dengan Sub Marine Disposal (SMD) dan ditempatkan di Tailing Storage Facility (TSF). Ini metode menahan limbah tailing tetap di darat.

 

Sisa material tailing Industri Emas termasuk limbah B3. Untuk pertambangan emas, 99% ,

 

Dan bahan kimia senyawa merkuri masih banyak digunakan para industri pengolahan emas tradisional . Pemurnian pengolahan emas tradisional menggunakan merkuri untuk menangkap dan memisahkan butir-butir emas dari bahan bahan yang lain hingga proses pemurniannya .

 

Endapan merkuri ini disaring menggunakan kain untuk mendapatkan sisa emas. Endapan yang tersaring kemudian diremas-remas dengan tangan. Air sisa-sisa pengolahan yang mengandung Hg dibiarkan mengalir ke suatu wadah dan pada akhirnya menjadi limbah B3.

 

 

Meskipun penggunaannya ini bersifat ilegal, namun aktivitas pengolahan emas secara tradisional semakin marak di Indonesia.

 

kurangnya fasilitas yang memadai, dan kurangnya pengetahuan serta kesadaran masyarakat tentang dampak merkuri menyebabkan tindakan melepas merkuri ke lahan tanah atau perarian dianggap sebagai sesuatu yang lumrah.

 

Merkuri adalah salah satu jenis logam berat yang banyak ditemukan di alam dan tersebar dalam batuan, tanah, air dan udara sebagai senyawa anorganik dan organik . Merkuri dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang industri, salah satunya industri emas.

 

Pengelolaan limbah hasil industri pengolahan emas yang tidak sesuai dengan prosedur yang baik dan benar akan menyebabkan pencemaran lingkungan. Merkuri yang telah mengontaminasi lingkungan dalam jangka waktu panjang akan membawa dampak buruk bagi kesehatan manusia yang sering berinteraksi dengan limbah B3 merkuri.

 

Limbah cair industri pengolahan emas yang mengandung ion logam berat seperti Cu2+ dan Ag+ yang berbahaya bagi lingkungan jika dibuang tanpa melalui pengolahan dahulu.

 

Karakter Emas adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol Au (aurum) dengan nomor atom 79.

 

Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa, kekerasannya berkisar antara 2,5-3 (skala Mohs), serta berat jenisnya tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral ikutan tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil mineral non logam. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi.

 

Proses Pengolahan Emas dengan Metode isolasi emas: metode sianida dan metode amalgamasi

 

Proses Sianida :
Proses pelarutan. Pelarut yang biasa digunakan dalam proses sianidasi adalah NaCN, KCN, Ca(CN)2, atau campuran ketiganya. Pelarut yang paling sederhana digunakan adalah NaCN, karena mampu melarutkan emas lebih baik dari pelarut lainnya.

 

Proses pemisahan emas dari larutannya. Pada tahap kedua dilakukan pengendapan dengan menggunakan serbuk Zn (zinc precipitation). Penggunaan serbuk Zn merupakan salah satu cara yang efektif untuk larutan yang mengandung konsentrasi emas kecil. Serbuk Zn yang ditambahkan kedalam larutan akan mengendapkan logam emas dan perak

 

Proses Merril Crowe :
Prinsip pengendapan berdasarkan deret Clenel, yang disusun berdasarkan perbedaan urutan aktivitas elektrokimia dari logam-logam dalam larutan sianida yaitu Mg, Al, Zn, Cu, Au, Ag, Hg, Pb, Fe, dan Pt.

 

Setiap logam yang berada di sebelah kiri dari ikatan kompleks sianida dapat mengendapkan logam. Jadi tidak hanya Zn yang dapat mendesak Au dan Ag, tetapi juga Cu dan Al dapat dipakai. Karena harga logam Cu dan Al lebih mahal sehingga untuk mengekstraksi Au digunakan logam Zn. Proses pengambilan emas-perak dari larutan dengan menggunakan serbuk Zn disebut “Proses Merill Crowe”.

 

Dampak Sianida
1. Kontaminasi pada Biota Laut Sianida merupakan racun bagi semua mahluk hidup. Brachet (1957) melaporkan bahwa sianida disamping dapat menghambat pernapasan juga dapat mengakibatkan perkembangan sel yang tidak sempurna pada organisme laut. Selanjutnya, sianida dapat menghambat kerja ensim ferisitokrom oksidase dalam proses pengambilan oksigen untuk pernapasan sehingga kontaminasi pada biota laut dapat menyebabkan mortalitas.

 

2. Keanekaragaman Hayati Hasil penelitian Anonimus (2000) melaporkan penurunan jumlah jenis ikan yang pernah tertangkap di perairan yang tercemar sianida seperti di Teluk Buyat dari 59 jenis (sebelum Tahun 1997) menjadi 13 jenis ikan.

 

Proses Amalgamasi :
proses penyelaputan partikel emas oleh air raksa dan membentuk amalgam (Au-Hg). Amalgam masih merupakan proses ekstraksi emas yang paling sederhana dan murah.

 

Amalgamasi merupakan proses yang paling efektif untuk mengekstraksi bijih emas dengan kadar tinggi dan berukuran > 74 mikron dalam mendapatkan emas murni yang bebas (free native gold).

 

Proses amalgamasi merupakan proses kimia fisika, apabila amalgamnya dipanaskan maka akan terurai menjadi air raksa dan bullion emas. Amalgam dapat terurai dengan pemanasan di dalam sebuah retort, air raksa akan menguap dan Au-Ag tetap tertinggal di dalam retort.

 

Proses Amalgamasi Melepas Mercuri
tahap pencucian dan penggarangan (penguapan merkuri). Pada proses pencucian, limbah yang umumnya masih mengandung merkuri dibuang langsung ke badan air atau ke permukaan tanah.

 

Hal ini disebabkan merkuri tersebut tercampur/ terpecah menjadi butiran-butiran halus yang sifatnya sukar dipisahkan, pada proses penggilingan yang dilakukan bersamaan dengan proses amalgamasi. Kemudian dalam proses pencucian, merkuri terbawa dalam limbah (tailing).

 

Material yang tercecer pada proses penggilingan tersebut, ditampung dalam bak penampung untuk diolah kembali, sampai diperkirakan tidak mengandung emas.

 

Setelah material dianggap sudah tidak mengandung emas, tetapi masih mengandung merkuri, oleh para pengolah emas dibuang langsung ke parit atau saluran air yang bermuara pada sungai terdekat atau ke sebuah lahan tanah.

 

Dampak Amalgamasi :
kontaminasi akibat air larian (run-off) dari limbah pengolahan emas, baik dalam bentuk padatan maupun cairan dari tailing pond;

polusi yang disebabkan oleh pembuangan limbah tanpa izin ke dalam sungai, saluran air maupun sistem perairan lainnya (saluran drainase); atau lahan tanah, amat sangat membahayakan manusia serta lingkungan hidup di sekitarnya. Red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *