Di Duga Limbah B3 PT PAKERIN di Manfaatkan Oleh Kelompok Narko Cs Untuk Bisnis Pribadi, Bahkan Sisa Limbah Akhir di Buang ke Sungai

  • Whatsapp

Sidoarjo, Media www.rajawalisiber.com – Setelah beberapa hari yang lalu, team investigasi RAJAWALI melakukan penelusuran serta melakukan invsetigasi lebih dalam terkait limbah B3 berdasarkan laporan dari masyarakat yang masuk ke Redaksi, Faktanya di sebuah Gudang yang beralamat Desa pandokan Kecamatan Prambon Kabupaten Sidoarjo memang terbukti adanya dugaan Limbah B3 yang di manfaatkan oleh pemilik gudang.

Dan Pemilik gudang tersebut adalah Narko beserta teman temanya yaitu Doly dan Shiap, nama nama tersebut di ketahui oleh team RAJAWALI dari masyarakat di sekitar gudang tersebut.

Dan team investigasi RAJAWALI pun berusaha melakukan klarifikasikan pada pemilik gudang yang menimbun limbah B3 tersebut yang beralamat di Desa Nambangan Sidoarja, namun tidak bertemu dengan Narko namun di temui oleh istri Narko dan di akui oleh istri Narka bahwa limbah bubur kertas tersebut adalah adalah milik suaminya dan Istri Narko ketika di tanya oleh team RAJAWALI terkait nama perusahaan pemanfaat apa, dan ijin perusahaan transpoter apa, dan sistem pengelolaan limbahnya bagaimana, istri Narko menyampaikan, ” iya mas ijin perusahaan yang dikelola oleh suaminya ya gak ada mas, ijin transporer truknya juga gak ada mas, trus sistem pengelolaan limbah itu apa mas, sudah lah urusannya cukup dengan aja ya mas,” ucapnya.

Dan faktanya Limbah tersebut di manfaatkan untuk kepantingan bisnis kelompok mereka, bahkan limbah tersebut di jual kembali ke Malang, Blitar serta Madiun dan limbah B3 tersebut setelah diolah pun masih menyisakan limbah B3 akhir, dan sisa sisa limbah B3 tersebut di salur kan keselokan di belakang gudang dan di alirkan ke sungai kecil di belakang gudang tersebut.

Berdasarkan fakta fakta temuan di gudang tersebut team mencoba melakukan penelusuran limbah di dalam gudang tersebut limbah B3 apa dari mana kelompok diatas mendapatkan limbah limbah B3 tersebut.

Setelah melakukan penelusuran fakta fakta lanjutan team investigasi mendapatkan informasi limbah B3 tersebut adalah limbah Industri kertas.

Dan yang di dapat team investigasi RAJAWALI mendapat informasi limbah B3 tersebut di duga dari Pabrik Kertas PT PAKERIN.

Setelah mendapatkan bukti bukti yang di rasa cukup team investigasi melakukan penelusuran industri kertas yang berupa seperti bubur kertas tersebut berbahaya atau tidak untuk lingkungan serta masyarakat.

Dan sebagai catatan team investigasi mendapatkan fakta Industri kertas menghasilkan beberapa jenis limbah padat antara lain sludge, biosludge, Di antara limbah padat tersebut, sludge merupakan limbah dengan volume terbesar.

Semakin meningkatnya kebutuhan kertas, semakin tinggi pula limbah sludge yang dihasilkan. Karakteristik sludge industri kertas antara lain lembek, strukturnya lunak seperti bubur, berwarna abu-abu keruh atau kehitaman, dan berbau tidak sedap.

Sludge merupakan limbah industri pulp dan kertas yang dihasilkan dalam kuantitas yang besar setiap harinya. Sebagian besar sludge ditumpuk oleh perusahan, sehingga menghasilkan masalah finansial, lingkungan dan kesehatan manusia.

Limbah padat biosludge industri pulp dan kertas mempunyai karakteristik yang tergantung dari bahan baku, sumber proses dan produk yang dihasilkan dari sumber tersebut.

Umumnya sumber limbah padat yang dihasilkan dari industri pulp atau kertas berasal dari reject proses penyediaan stok, unit pemulihan serat dan hasil akhir instalasi pengolahan limbah cair berupa sludge yang keluar dari belt press. Komponen dari limbah padat terdiri dari serat pendek, serta bahan pengisi, plastik, logam, wax dan pengotor lainnya.

Meningkatnya pertumbuhan industri berdampak pada meningkatnya permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
Beberapa kasus pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh B3 yang dihasilkan industri telah menjadi topik hangat di media masa.

Dalam catatan redaksi, Seperti pencemaran teluk Buyat di Sulawesi Utara yang berdampak timbulnya penyakit kulit yang menyerang penduduk sekitar.

Pada umumnya pencemaran lingkungan yang disebabkan industri pulp dan kertas antara lain: 1) membunuh ikan, kerang dan invertebrata akuatik lainnya, 2) masuknya zat kimia karsinogen dan zat pengganggu aktivitas hormon ke dalam lingkungan, 3) menghabiskan jutaan liter air tawar, 4) menimbulkan risiko terpaparnya masyarakat oleh buangan zat kimia berbahaya dari limbah industri yang mencemari lingkungan.

Karakteristik Limbah Industri Pulp dan Kertas

Warnanya yang kehitaman atau abu-abu keruh, bau yang khas, kandungan padatan terlarut dan padatan tersuspensi yang tinggi, COD yang tinggi dan tahan terhadap oksidasi biologis.

Jenis Limbah Industri Pulp dan Kertas, limbah industri pulp dan kertas dibagi menjadi 4 kelompok yaitu:

1)        Limbah padat, terdiri dari:

a)     Sludge, adalah suatu bahan yang terdiri atas padatan 90% dan air 10%. Sludge didapat dari proses pengendapan pada efflument treatment plant, mengandung bahan organik yang berasal dari bahan baku pulp.

b)     Biosludge, adalah hasil samping dari efflument treatment yakni dari proses biological aeration, tersusun dari bahan baku pulp, selain mengandung mikroorganisme sebagai efek dari biological aeration.

c)     Pith, adalah bahan dari proses depething plant yaitu proses pemisahan secara mekanik bahan baku pulp yaitu antar bahan serat dan bahan bukan serat.

2)        Partikulat, terdiri dari:

a)     Abu dari pembakaran kayu bakar dan sumber energi lain.

b)     Partikulat zat kimia terutama yang mengandung natrium dan kalsium.

3)        Limbah cair, terdiri dari:

a)     Padatan tersuspensi yang mengandung partikel kayu, serat dan pigmen.

b)     Senyawa organik koloid terlarut seperti hemiselulosa, gula, alkohol, lignin, terpenting, zat pengurai serat, perekat pati dan zat sintetis yang menghasilkan BOD (Biological Oxygen Demand) yang tinggi.

c)     Limbah cair berwarna pekat yang berasal dari lignin dan pewarna kertas.

d)     Bahan anorganik seperti NaOH, Na2SO4 dan klorin.

e)     Limbah panas.

f)      Mikroba seperti golongan bakteri coliform.

2)        Limbah gas, terdiri dari:

a)     Gas sulfur yang berbau busuk seperti merkaptan dan H2S yang dilepaskan dari berbagai tahap dalam proses kraft pulping dan proses pemulihan bahan kimia.

b)     Oksida sulfur dari pembakaran bahan bakar fosil, kraft recovery furnace dan lime kiln (tanur kapur).

c)     Uap yang mengganggu jarak pandangan

Dampak Limbah Padat Industri Pulp dan Kertas terhadap Lingkungan dan Kesehatan Manusia

Kebutuhan akan kertas yang tinggi menjadikan industri pulp dan kertas di Indonesia semakin berkembang. Akan tetapi dampak positif dari perkembangan industri juga diikuti oleh dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia akibat limbah yang dihasilkannya.

Dampak Limbah Padat Industri Pulp dan Kertas terhadap Lingkungan

Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh industri pulp dan kertas, antara lain:

1)        Membunuh ikan, kerang dan invertebrata akuatik lainnya, sehingga bisa berdampak pada manusia yang mengkonsumsinya.

2)        Masuknya zat kimia karsinogen dan zat pengganggu aktivitas hormon ke dalam lingkungan.

3)        Menghabiskan jutaan liter air tawar.

Dampak Limbah Padat Industri Pulp dan Kertas terhadap Kesehatan Manusia

Menurut Green (2005) dalam Rahmani (2016), terdapat beberapa senyawa dalam limbah padat industri pulp dan kertas yang berpeluang besar bersifat karsinogenik bagi kesehatan manusia, yaitu:

1)        Asbes, yang dapat menyebabkan kanker paru-paru.

2)        Aditif kertas lainnya termasuk benzidine-base dyes, formaldehid dan epichlorohydrin yang berpeluang menimbulkan kanker pada manusia.

3)        Kromium heksavalen dan senyawa nikel, bersifat karsinogenik terhadap paru-paru dan organ pernafasan lain. Menurut Palar (2008), ion-ion Cr6+ (kromium heksavalen) dalam proses metabolisme dalam tubuh akan menghalangi atau mampu menghambat kerja dari enzim benzopiren hidroksilase yang dapat mengakibatkan perubahan pada kemampuan pertumbuhan sel, sehingga sel-sel menjadi tumbuh secara liar dan tidak terkontrol (menjadi sel kanker). Hal inilah yang menjadi dasar dari penggolongan kromium ke dalam kelompok logam yang bersifat karsinogenik.

4)        Debu kayu (utamanya kayu keras), yang dikenal sebagai penyebab kanker pada saluran pernafasan.

5)        Hidrazin, styren, minyak mineral, chlorinated phenols dan dioksin yang berpeluang besar menyebabkan kanker. Menurut Yuniarti (2008), dioksin adalah senyawa organik yang sukar terdegradasi dan konsentrasinya akan berlipat ganda jika masuk ke dalam rantai makanan karena adanya proses biomagnifikasi. Hal ini menyebabkan konsentrasi dioksin di dalam jaringan tubuh menjadi ratusan kali lebih besar. Tahun 1998 WHO menetapkan ambang batas aman konsumsi dioksin, yaitu 1-4 pikogram (sepertriliun gram) dioksin per-kilogram berat badan. Dalam jumlah sedikit saja dioksin sudah sangat berbahaya, apalagi dalam jumlah besar maka dioksin akan bersifat karsinogenik (pemicu kanker). 

Konsentrasi yang lebih tinggi akan menyebabkan penyakit kulit chloracne (jerawat yang parah disertai dengan erupsi kulit dan kista). Dioksin juga akan menyebabkan penurunan hormon reproduksi pria hingga 50% dan menyebabkan kanker prostat dan kanker testis, sedangkan pada wanita dioksin akan menyebabkan kanker payudara dan endometriosis, yakni jaringan selaput lendir rahim yang masih berfungsi tumbuh di luar rongga rahim.

Menurut Rahmani (2016), air limbah industri pulp dan kertas sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia mengingat bahwa banyak penyakit yang dapat ditularkan melalui air limbah tersebut. Air limbah ini ada yang hanya berfungsi sebagai media pembawa saja seperti penyakit kolera, radang usus, hepatitis infektiosa, serta schitosomiasis. Selain sebagai pembawa penyakit di dalam air limbah itu sendiri banyak terdapat bakteri patogen penyebab penyakit seperti:

1)        Virus 

2)        Vibrio cholera

3)        Taenia spp.

4)        Ascaris spp.

5)        Enterobius spp.

Selain sebagai pembawa dan kandungan kuman penyakit, maka air limbah juga dapat mengandung bahan-bahan beracun, penyebab iritasi, bau dan bahkan suhu yang tinggi serta bahan-bahan lainnya yang mudah terbakar (Rahmani, 2016). (Team RAJAWALI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *