Home Berita Kabupaten Magetan Gerbong Kertapati Saksi Bisu Jenazah Para Kyai & Tokoh Lainya Atas Pembantaian...

Gerbong Kertapati Saksi Bisu Jenazah Para Kyai & Tokoh Lainya Atas Pembantaian PKI di Peristiwa Madiun 1948

41,569 views
0

Magetan Jawa Timur, Media www.rajawalisiber.com – Tetenger Soco, Desa Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, Komplek Monumen Soco terdiri dari tiga bangunan utama, antara lain: Pendopo Loka Pitra Dharma, Gerbong Kerta Pati, dan Monumen/ Tetenger Soco.

 

Monumen Soco diresmikan pada tahun 1989 oleh Ketua DPR RI M. Khasir Suhud. Monumen Soco didirikan untuk mengenang para pahlawan dan korban keganasan pemberontakan PKI tahun 1948.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seluruh korban berjumlah 108 orang. Monumen Soco didirikan di atas sumur bekas pembuangan mayat korban-korban keganasan PKI. Sebelumnya Para Korban diangkut dan disiksa di dalam gerbong kertapati, sehingga gebong ini turut dimonumenkan.

 

 

 

 

 

 

 

Monumen Soco merupakan obyek wisata sejarah, sebuah monumen untuk memperingati tragedi berdarah dari keganasan pemberontakan PKI tahun 1948, yang ditandai dengan dibangunnya sebuah monumen berupa Gerbong Kereta Api “Kertopati”.

 

 

 

 

 

 

Korban yang tewas dalam peristiwa tersebut berjumlah 108 orang, dan monumen Soco didirikan di atas sumur bekas pembuangan mayat korban-korban keganasan PKI tersebut. Sebelumnya Para Korban diangkut dan disiksa di dalam gerbong kertapati, sehingga Gerbong ini turut dimonumenkan.

Gerbong kertapati digunakan untuk mengangkut para korban keganasan PKI waktu itu dan terletak di desa Soco, Kecamatan Bendo, 15 Km arah timur dari pusat kota Kabupaten Magetan.

Gerbong kereta yang digunakan untuk mengangkut mayat-mayat yang telah dibantai di pabrik gula Redjo Sari Gorang-Gareng  lalu diangkut untuk dikubur di sumur soco.

Dan saat kita mendekati gerbong tersebut maka yang tercium bau anyir darah dari bekas pembantaian yang ada di gerbong itu. Suasana yang membuat merinding di bulu kuduk masih terasa sisa sisa kebrutalan pembantaian saat itu.

Dan di samping gerbong Kertapati tersebut. Adalah sebuah Sumur yang di buat mengubur ratusan mayat tak berdosa. Pada bagian ini di beri nama Monumen Soco atau Tetenger Soco. dan sudah berbentuk tugu.

Sempat terlintas di benak siapapun yang berkunjung di monumen tersebut dan terbayang betapa ganasnya pada masa tersebut.

Nyawa tidak ada harganya. Dan apa mereka tidak lagi memiliki hati nurani seorang manusia. Mereka membantai orang dengan membabi buta.

Ratusan orang dijagal dan dimasukkan ke dalam sumur tua yang ada di tengah perkebunan tebu sewaktu pemberontakan PKI Madiun pada September 1948. Anehnya malah terlihat dilupakan atau dianggap tak penting!

Perkebunan tebu tampak mengering mengiringi sengatan suhu yang dibuat matahari di sekitar wilayah Takeran, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Di sebuah warung tikungan jalan yang letaknya di samping pabrik gula Rejosari, Kecamatan Kawedanan, Magetan, beberapa orang lelaki tampak duduk meriung sebuah warung.

Di seberang jalan tampak sebuah tugu yang dipucuknya terpacak patung burung garuda terbang.

Saat itu beberapa orang datang berkunjung ke monumen dalam rangka peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Sebuah karangan bunga diletakkan di kaki tugu tersebut.

”Ya, persis di bawah tugu itulah dulu lubang pembantaian PKI 1948. Setelah jenazahnya diambil, sumur ditimbun kembali. Beberapa tahun setelah tragedi itu di situ kemudian didirikan monumen,” kata Jumiran (57 tahun), warga Desa Rejosari.

Menurut Jumiran, para pengunjung monumen tak hanya datang pada bulan September atau Oktober saja. Pada hari biasa banyak juga keluarga korban pembantaian yang datang untuk berdoa dan tabur bunga. ”Mereka datang dari jauh, dari luar Magetan. Kadang ada juga yang menyelenggarakan tahlilan di situ,” ucap mbok yem, warga Desa Rejosari lainnya.

Ketika ditanya siapa sebenarnya yang dulu di dalam lobang sumur itu, Mbok Yem menjelaskan ketika orang tuanya memberitahu bahwa mereka yang dibunuh bukan berasal dari kampungnya. ”Mereka orang jauh. ada bupati, wedana, jaksa, kiai, haji, pegawai, dan lainnya. Untuk persisnya, lihat saja nama-nama yang ada di tembok monumen,” ujarnya.

Dan ketika dicek di tembok monumen, Mereka di antaranya Bupati Magetan, Para anggota Kepolisian, Patih Magetan, Wedana, Kepala Pengadilan Magetan, Kepala Penerangan Magetan, Lima Orang kyai, dan para warga biasa lainnya.

Selain itu masih ada lima sumur lainnya yang juga dipakai sebagai ajang pembantaian. Bila dijumlahkan, seluruh korban pembantaian tercatat ada 114 orang.

Nama Nama Para Kyai (Ulama’) yang ada di monumen itu di antaranya tertulis KH Imam Shofwan. Dia pengasuh Pesantren Thoriqussu’ada Rejosari, Madiun. KH Shofwan dikubur hidup-hidup di dalam sumur tersebut setelah disiksa berkali-kali.

Bahkan, ketika dimasukkan ke dalam sumur, KH Imam Shofwan sempat mengumandangkan azan. Dua putra KH Imam Shofwan, yakni Kiai Zubeir dan Kiai Bawani, juga menjadi korban dan dikubur hidup-hidup secara bersama-sama.

Selain itu, beberapa nama yang menjadi korban adalah Keluarga Pesantren Sabilil Mutaqin (PSM) Takeran.

Mereka adalah Guru Hadi Addaba’ dan Imam Faham dari Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran.

Imam Faham adalah adik dari Muhammad Suhud, Paman dari mantan mendiang ketua DPR M Kharis Suhud. Selain perwira militer, Pejabat Daerah, Wartawan, Politisi pun ikut menjadi korbannya.

Pengasuh Pondok Pesantren Sabilil Mutaqin (PSM) KH Zakaria (83 tahun) Menjelaskan, seusai Shalat Jumat pada 17 September 1948 Pesantrennya didatangi beberapa orang tokoh PKI.

Kepala rombongan yang dipimpin aktivis PKI Suhud. Mereka datang didampingi para pengawal bersenjata yang dikenali sebagai kepala keamanan di Takeran.

”Ketika menjemput kepada Kiai Mursyid Suhud menukil ayat Alquran, Innalloha Laa Yughoyirru Bi Qoumin Hatta Yughoyiyiru Maa bi Anfusihim (Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib satu kaum kecuali kaum itu mengubah nasibnya sendiri).

Setelah berkata seperti itu, Kiai Mursyid pun dibawa pergi dan sampai sekarang tak diketahui rimbanya,” kata Zakaria seraya mengaku bahwa peristiwa itu dan siapa saja orangnya hingga sekarang masih diingatnya dengan baik.

Zakaria menceritakan, tak cukup menyerbu pesantren PSM Takeran, pada saat itu banyak pesantren lain yang ada di sekitar Madiun dan Magetan yang juga didatangi gerombolan masa PKI pimpinan Muso itu.

Salah satu di antara yang diserbu itu adalah Pesantren Tegalrejo, sebuah pesantren tua yang ada tak jauh dari wilayah Takeran.

”Ketika massa PKI sampai di pesantren Tegalrejo itu, pengasuh pondok, KH Imam Mulyo ditangkap dan dilempari beberapa granat sembari diancam agar mau tunduk kepada ideologi dan partai mereka. Syukurnya granat itu tak meledak,” ujar Zakaria.

Karena granat tak meledak, lanjutnya, maka kini ganti para santri yang tadinya diam saja berbalik melawan mereka.

Para gerombolan itu ternyata pengecut karena malah lebih memilih lari karena ketakutan.

“Mbah Kiai Pesantren Tegalrejo akhirnya bisa lolos dari penculikan,” ungkap Zakaria.

Dia kemudian menerangkan bila masa yang menyerbu pesantren itu berpakaian hitam, bersenjata, dan berikat kepala merah.

Zakaria menambahkan bahwa aksi mereka sangat kejam berupa gerakan penculikan dan pembunuhan yang dilakukan oleh PKI pada bulan September tahun 1948 itu bukanlah aksi biasa yang tanpa tujuan.

Setidaknya, mereka benar-benar sudah mempersiapkannya dengan matang. Ini terbuti hanya dalam waktu singkat para pemberontak tersebut mampu menguasai wilayah yang cukup luas, yakni meliputi Madiun, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Purwantoro, Blora, Pati, Cepu, dan Kudus.

”Sebelum peristiwa tersebut terjadi, di sekitar Takeran beterbaran aneka pamflet tentang Muso yang baru pulang dari Moskow. Pesantren Takeran dipilih untuk diserbu karena saat itu menjadi tempat atau basis pergerakan Islam. Kiai Mursyid mau diajak berunding karena sudah tahu pesantrennya terancam akan dibakar,” tegas Zakaria.

Tak hanya menyapu daerah di timur Gunung Lawu, aksi PKI di tahun 1948 juga melakukan gerakan di “wilayah barat”, seperti Klaten dan Solo.

Sebagai generasi Bangsa Indonesia jika menganggap bahwa pembantaian Para Kyai serta Ulama’ itu hanya sebuah dongeng dan sejarah pembantaian tersebut di anggap sebuah khayalan sungguh miris jika generasi hari ini cara berfikir nya seperti itu,,,,bukti bukti dan fakta fakta sejarah masih ada.

Sungguh ironis jika generasi sekarang mendengarkan kisah pembantaian PKI Madiun di tahun 1948 itu menganggap cerita khayalan? Atau jangan-jangan malah dianggap sebagai dongeng yang senyap karena sudah dianggap dongeng oleh mereka yang kerap mengklaim diri sebagai pejuang HAM.

Sejarah telah mencatat kelicikan-kelicikan PKI yang menculik satu demi sartu pimpinan pesantren yang dianggap musuh. Yel-yel PKI adalah “Pondok bobrok, langgar bubar, santri mati”.

PKI memang sempat berhasil melumpuhkan sejumlah pesantren di Magetan. Salah satu pesantren incaran PKI adalah Takeran.

Pesantren ini secara geografis sangat dekat dengan Gorang Gareng sehingga dapat dikatakan bahwa pesantren Takeran adalah rangkaian pembantaian PKI yang terjadi di Gorang Gareng.

Pesantren Takeran atau dikenal dengan Pesantren Sabilil Muttaqien dipimpin oleh Kiai Imam Mursjid Muttaqien yang masih berumur 28 tahun.

Pesantren Takeran merupakan salah satu pesantren yang paling berwibawa di Magetan kerena pemimpinnya mempunyai pengaruh yang sangat besar di jaman itu Kyai Imam Mursjid juga bertindak sebagai Imam Tarekat Syatariyah.

Pesantren menjadi musuh utama PKI karena dalam pesantren itu terdapat kekuatan yang sangat diperhitungkan, yaitu di dalam pesantren Takeran mamang aktif melakukan penggemblengan fisik dan spiritual terhadap para Santri.

Pada tanggal 17 September 1948, tepatnya hari Jumat Kyai Hamzah dan Kyai Nurun yang berasal dari Tulungagung dan Tegalrejo pergi ke Burikan.

Setelah kepergian mereka seusai shalat Jumat, Kyai Imam Mursjid didatangi oleh tokoh-tokoh PKI.

Saat itu Kiai Imam Mursjid diajak bermusyawarah mengenai Republik Soviet Indonesia. Kepergian pemimpin pesantren mereka menimbulkan tanda tanya besar. Dua hari kemudian keberadaan Kyai Imam Mursjid belum diketahui secara pasti.

PKI terus melakukan penangkapan dan penculikan kepada ustaz-ustaz serta Kyai Kyai yang lain, seperti Ahmad Baidway, Husein, Hartono, dan Hadi Addaba.

Mereka tidak pernah kembali, bahkan sebagian besar ditemukan sudah menjadi mayat di lubang-lubang pembatantaian yang tersebar di berbagai tempat di Magetan.

Yang menimbulkan keheranan adalah, sampai sekarang tempat pembantaian Kyai Mursjid belum diketahui karena jenazahnya belum ditemukan sampai detik ini. Bahkan, dari daftar korban yang dibuat PKI sendiri tidak tercantum nama Kyai Mursjid.( Investigasi di dapat dari berbagai sumber yang bisa di bertanggungjawab mam). Red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here