Hasil Investigasi Team: Modus dan Pola Para Koruptor Gresik Dalam Pencucian Uang Hasil Korupsinya, KPK Harus Pelototi

Gresik Jawa Timur, Media RAJAWALISIBER – Selalu waspada, adalah salah satu cara agar masyarakat terhindar dari jerat UU TPPU.
Sebab banyaknya Koruptor dalam modus pencucian uang hasil korupsinya yang dilakukan pelaku Koruptor aktif di satu sisi, membuat masyarakat di sisi berbeda pun berada dalam ancaman.
Bahwa modus yang dilakukan memang sangat bervariasi. Pelaku korupsi pasti aktif dalam pencucian uang, bahkan, juga bisa di pastikan menyamarkan hasil kejahatannya dengan memberikan kepada orang-orang yang tidak terikat tali kekeluargaan.
Jadi, bukan hanya kepada anak, istri, sepupu,
dan sebagainya. Pengemudi/Sopir, office boy, tukang kebun, korban bencana alam, pengurus yayasan sosial atau keagamaan, bahkan bisa jadi Ajudan Pribadinya, serta siapapun,
Bisa saja menerima uang dari pelaku koruptor aktif, yang ditujukan untuk menyamarkan hasil kejahatan tersebut. Dan jika sudah demikian, apa lagi konsekuensinya, jika bukan si penerima pun bisa dijerat sebagai pelaku pasif.
“Untuk itu, jika ada keluarga, sopir, pengelola masjid yang menerima dana dari siapa pun tanpa mengetahui sumbernya, dan kemudian terkait korupsi, maka mereka akan terkena UU TPPU. Karena, ukurannya harus melapor. Dalam fiksi hukum dikatakan, bahwa jika sebuah UU sudah diundangkan, maka seluruh masyarakat dianggap tahu,”
Dalam catatan PPATK, modus yang dilakukan selalu menyebar ke banyak orang. Bisa dari satu orang ke dua orang, bahkan sampai lima orang atau lebih.
Modus Sang Koruptor tersebut bisa berupa pemberian perhiasan, rumah, kendaraan, atau bahkan “sekadar” pemberian sumbangan. Dalam hal ini, maka pelaku Koruptor aktif akan berusaha membuat rantai pencucian uang semakin panjang. Itulah sebabnya, maka tak jarang money laundering juga dilakukan melalui berbagaicara untuk melarikan uang tersebut ke luar negeri.
“Semakin pendek rantainya, tentu tentu risiko ketahuan semakin tinggi,”
Secara spesifik, dan terinci hal itu menjadi beberapa lingkaran orang-orang yang bisa dijadikan tempat pencucian uang dari hasil korupsi. Biasanya di ring satu, hal lain yang tentu saja berdasarkan temuan PPATK.
Dalam hal ini, contoh seorang oknum pejabat menyamarkan harta hasil kejahatannya dengan cara membelikannya menjadi aset tanah. Pejabat tersebut, mencuci uang hasil korupsinya dengan membeli kebun coklat di Papua dan Maluku, serta kebun sawit di Sumatera dan Kalimantan.
“Modus-modus pencucian uang juga semakin canggih. Tidak hanya ketika seseorang bisa mempunyai 148 perusahaan. Selain itu, terdapat juga modus unik. Yakni, rumah sakit atau klinik 24 jam, memberikan uang kepada pasien yang berobat,”
Seolah berkejaran dengan kemajuan zaman, para pelaku koruptor dalam pencucian hasil korupsinya memang senantiasa memperbarui dengan berbagai pola atau modus yang dilakukan.
Dan di antara berbagai modus, yang paling banyak digunakan adalah transaksi tunai, baik setoran maupun tarikan tunai.
Sebagaimana kita ketahui transaksi tunai ini membuat PPATK sulit mendeteksi pelaku korupsi sampai ke hulu. Para pelaku memang pintar. Mereka tidak akan mungkin menggunakan cara transfer dalam melakukan korupsi, karena lebih mudah terdeteksi.
“Selama ini PPATK sulit mendeteksi, karena mereka melakukan transaksi tunai. dan hanya bisa dapat orang yang menerima, tetapi tidak tahu dari mana asal uang itu. Makanya, KPK yang perlu mendalaminya lebih jauh,”
Tidak sebatas itu. Pola lain yang dipergunakan adalah dengan menempatkan dana dalam bentuk investasi. Seperti kepemilikan deposito, ORI, obligasi, reksadana, saham, dan SUKUK.
Mereka, juga kerap melakukan transaksi di perusahaan asuransi dengan nilai yang relatif besar dan tidak sesuai dengan profil nasabah. Red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *