MENDIKBUD : PERBEDAAN BUKAN DI PERTENTANGKAN TETAPI PEREKAT DAN KEKAYAAN

PERBEDAAN BUKAN DI PERTENTANGKAN TETAPI PEREKAT DAN KEKAYAAN 

Meneladani pejuang: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mendampingi Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, juga hadir Dirjen Kebudayaan dan Direktur Sejarah, serta Gubernur Bengkulu pada acara pembukaan kegiatan Lawasan Sejarah Nasional (Lasenas). Lasenas tak sekedar mengunjungi obyek sejarah, melainkan meneladai tokoh-tokoh pejuang, Senin (15/5/2017).

Acara pembukaan: Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan membuka secara resmi kegiatan Lasenas 2017. Sebelumnya diserahkan bantuan, berupa Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), serta Program Keluarga Harapan (PKH), Senin (15/5/2017).

 

Direktur: Kegiatan Lasenas Jadi Perekat Integrasi Bangsa

BENGKULU,RAJAWALI NEWS.Diperlukan upaya yang bisa menjadikan sebagai pengingat, perekat dan penyemangat nilai-nilai sejarah bangsa. Salah satunya dilakukan melalui rangkaian kegiatan Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas).

“Saya kira sejarah memiliki peran strategis sebagai pengingat, perekat dan penyemangat nilai-nilai sejarah bangsa, ” ujar Direktur Sejarah, Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Triana Wulandari di sela rangkaian Lasenas di Bengkulu, Selasa, (16/5/2017).

Lasenas, kata Triana, tidak sekedar mengunjungi obyek sejarah. Melainkan menjadikan generasi bangsa, khususnya pelajar SMA/SMK/MA sederajat untuk memiliki rasa hayat sejarah dan memunculkan cinta pada tanah airnya.

“Dengan memiliki cinta tanah air, maka mereka akan banyak berbuat dan kontribusi untuk bangsa dengan berbagai potensi yang dimilikinya, seperti tokoh-tokoh pahlawan yang telah berjuang untuk bangsa, ” katanya.

Selain itu, Lasenas juga bisa memotivasi dan menjadi spirit baru. Sekaligus mengispirasi masa depan generasi bangsa melalui berbagai contoh keteladanan yang telah dilakukan oleh para pejuang yang dipelajarinya.

“Melalui Lasenas, bisa termotivasi, memiliki spirit baru yang menginspirasi masa depan mereka melalui berbagai contoh keteladanan dari para pejuang yang dipelajarinya, ” ucapnya.

Peserta Lasenas datang dari seluruh Indonesia yang berbeda suku, bahasa daerah, serta budayanya, sehingga menjadikan sebagai jembatan integrasi bangsa untuk bersatu merajut kebhinnekaan dalam ke-Indonesiaan.

“Keberagaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi sesuatu keniscayaan. Sebab, perbedaan bukan untuk dipertentangkan melainkan perekat dan kekayaan untuk menyatu melalui kegiatan Lasenas, ” tandasnya.

Setiap peserta harus terlatih menulis menggunakan literasi nasinal berbasis sejarah. Hal tersebut menjadi bagian dari persyaratan dalam menulis makalah tentang sejarah Bengkulu dari masing – masing perspektif.

“Dari hasil karya tulis berupa makalah yang dipresentasikan tersebut, akan memunculkan pemahaman dan nilai-nilai tentang sejarah bangsa, ” katanya.
Lasenas digelar di Provinsi Bengkulu mulai 14 – 18 Mei 2017 diikuti 200 peserta, terdiri dari siswa dan siswi terpilih SMA/SMK/MA sederajat dari 34 provinsi, guru pendamping, wartawan nasional dan lokal, serta komunitas kesejarahan.

Dibuka secara resmi oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, didampingi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sebelumnya diserahkan bantuan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, berupa Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), serta Program Keluarga Harapan (PKH). Red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *