PT. Surabaya Meka Box Buang Limbah B3 Bottom Ash Di Lamongan

(PT. Surabaya Meka Box produces Corrugated Carton Box, Medium and Kraft liner Paper, Strapping Band,)

Mantub Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Team RAJAWALISIBER sudah Tiga ( 3 ) hari sejak Tgl 18/20, Juli 2019 Memantau iring iringan beberapa Dump Truk yang keluar dari Perusahaan PT Surabaya Meka Box yang kami duga membuang limbah Bottom Ash sekitar 75 ton/harinya di daerah Kecamatan Mantup Kabupaten Lamongan Jawa Timur.

 
Setelah Tiga (3) hari kita ikuti Iringan Dump Truk tersebut masuk disebuah lahan yang berpagar tembok pembatas setinggi dua (2) meter yang dijaga beberapa satpam dan saat team RAJAWALISIBER mencoba untuk masuk ke lahan tersebut untuk klarifikasi tampaknya satpam nya mengunci pintu yang berpagar besi dan tidak ada jawaban saat beberapa kali team mengetuk pintu pagar besi untuk mencoba investigasi lebih dalam terkait limbah bottom ash yang di timbun di lahan tersebut.
 

Dan ketika team RAJAWALISIBER Investigasi ke warga setempat untuk mengetahui di dalam ada kegiatan industri apa, dan yang kami dapat dari warga setempat yang tidak mau disebutkan identitasnya menyampaikan bahwa, Kegiatan di dalam lahan tersebut,”  sudah berlangsung lama pak, didalam pabrik tersebut membuat batu bata pak, “ kata penduduk setempat.

Warga menampakkan wajah keraguan saat menyebut pemilik laman itu. Begitu pula penduduk yang lain, segera tutup mulut ketika ditanya siapa pemilik lahan tersebut. Apalagi, mereka tak mau menjawab, bahwa yang di kirim oleh iring iringan dump truk itu bisa menghadapi masalah dengan adanya  pembuangan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Rata-rata mengaku tidak tahu menahu apa yang ada di dalam dumptruk itu.

“Kalau itu saya tidak tahu pak. Saya ini tadi saya cuman cari buah asem yag berjatuhan dari pohon, “ kata warga yang lain.

Dari hasil pengamatan team, armada transportir tersebut milik PT Cahaya Indah Mojokerto yang telah membuang limbah B3 di kawasan yang tidak memiliki izin pengelolaan, pengumpul dan pemanfaat. Dan informasi adanya truk yang membuang limbah B3 tidak pada tempatnya itu Pabrik PT Surabaya Meka box di Gresik,

Catatan :

Fly ash dan bottom ash merupakan limbah padat yang dihasilkan dari pembakaran batubara pada pembangkit tenaga listrik. Ada tiga type pembakaran batubara pada industri listrik yaitu dry bottom boilers, wet-bottom boilers dan cyclon furnace.

Apabila batubara dibakar dengan type dry bottom boiler, maka kurang lebih 80% dari abu meninggalkan pembakaran sebagai fly ash dan masuk dalam corong gas. Apabila batubara dibakar dengan wet-bottom boiler sebanyak 50% dari abu tertinggal di pembakaran dan 50% lainnya masuk dalam corong gas. Pada cyclon furnace, di mana potongan batubara digunakan sebagai bahan bakar, 70-80 % dari abu tertahan sebagai boiler slag dan hanya 20-30% meninggalkan pembakaran sebagai dry ash pada corong gas. Type yang paling umum untuk pembakaran batubara adalah pembakaran dry bottom seperti dapat dilihat pada Gambar dibawah.

Gambar Electrostatic Precipitator

Dahulu fly ash dan bottom ash diperoleh dari produksi pembakaran batubara secara sederhana, dengan corong gas dan menyebar ke atmosfer. Hal ini yang menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan, karena fly ash hasil dari tempat pembakaran batubara dibuang sebagai timbunan. Fly ash dan bottom ash ini terdapat dalam jumlah yang cukup besar, sehingga memerlukan pengelolaan agar tidak menimbulkan masalah lingkungan, seperti pencemaran udara, atau perairan, dan penurunan kualitas ekosistem.

Salah satu penanganan lingkungan yang dapat diterapkan adalah memanfaatkan limbah fly ash dan bottom ash untuk keperluan bahan bangunan teknik sipil, namun hasil pemanfaatan tersebut belum dapat dimasyarakatkan secara optimal, karena berdasarkan PP. No.85 tahun 1999 tentang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), fly ash dan bottom ash dikategorikan sebagai limbah B3 karena terdapat kandungan oksida logam berat yang akan mengalami pelindihan secara alami dan mencemari lingkungan.

Yang dimaksud dengan bahan berbahaya dan beracun (B3) adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusakkan lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain.

Pasal 2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun menyebutkan bahwa pengelolaan limbah B3 bertujuan untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang dapat tercemar sehingga sesuai fungsinya kembali.

Pasal 3 menyebutkan bahwa setiap orang yang melakukan usaha dan atau kegiatan yang menghasilkan limbah B3, dilarang membuang limbah B3 yang dihasilkannya itu secara langsung kedalam media lingkungan hidup, tanpa pengolahan terlebih dahulu.

Sedangkan Pasal 7 Ayat 2 menyebutkan bahwa daftar limbah dengan kode limbah D220, D221, D222 dan D223 dapat dinyatakan sebagai limbah B3 setelah dilakukan uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) dan atau uji karakteristik. Di mana dalam daftar limbah B3 dari sumber yang spesifik fly ash & bottom ash dengan kode limbah D223 adalah sebagai berikut dalam Tabel dibawah. 

Tabel Daftar Limbah B3 dengan Kode Limbah D223 [PP18/99 jo PP85/99]

Kandungan dan kelas fly ash &bottom ash

Fly ash dan bottom ash merupakan material yang memiliki ukuran butiran yang halus, berwarna keabu-abuan dan diperoleh dari hasil pembakaran batubara. Pada intinya fly ash dan bottom ash mengandung unsur kimia antara lain silika (SiO2), alumina (Al2O3), fero oksida (Fe2O3) dan kalsium oksida (CaO), juga mengandung unsur tambahan lain yaitu magnesium oksida (MgO), titanium oksida (TiO2), alkalin (Na2O dan K2O), sulfur trioksida (SO3), pospor oksida (P2O5) dan carbon.

Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat fisik, kimia dan teknis dari fly ash dan bottom ash adalah tipe batubara, kemurnian batubara, tingkat penghancuran, tipe pemanasan dan operasi, metoda penyimpanan dan penimbunan. Adapun komposisi kimia dan klasifikasinya seperti dapat dilihat pada Tabel dibawah.

Gambar Fly Ash Powder 

Tabel Komposisi dan Klasifikasi Fly ash dan bottom ash

Menurut ASTM C618 fly ash & bottom ash dibagi menjadi dua kelas yaitu kelas F dan kelas C. Perbedaan utama dari kedua ash tersebut adalah banyaknya calsium, silika, aluminium dan kadar besi di ash tersebut. Walaupun kelas F dan kelas C sangat ketat ditandai untuk digunakan fly ash yang memenuhi spesifikasi ASTM C618, namun istilah ini lebih umum digunakan berdasarkan asal produksi batubara atau kadar CaO. Yang penting diketahui, bahwa tidak semua fly ash dapat memenuhi persyaratan ASTM C618, kecuali pada aplikasi untuk beton, persyaratan tersebut harus dipenuhi. 

Fly ash dan bottom ash kelas F: merupakan yang diproduksi dari pembakaran batubara anthracite atau bituminous, mempunyai sifat pozzolanic dan untuk mendapatkan sifat cementitious harus diberi penambahan quick lime, hydrated lime, atau semen. Fly ash kelas F ini kadar kapurnya rendah (CaO < 10%). 

Fly ash & bottom ash kelas C: diproduksi dari pembakaran batubara lignite atau sub-bituminous selain mempunyai sifat pozolanic juga mempunyai sifat self-cementing (kemampuan untuk mengeras dan menambah strength apabila bereaksi dengan air) dan sifat ini timbul tanpa penambahan kapur. Biasanya mengandung kapur (CaO) > 20%.F.

(Video iring iringan dumptruk limbah B3 bottom ash dari PT Surabaya Meka Box ke  sebuah lahan di lamongan)

 

 

” Fly Ash dan bottom ash Merupakan Limbah Yang Berbahaya”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *