PT. Surya Purnama Semesta Jasa PEMANFAAT Limbah B3

Gresik Jawa Timur, Media RAJAWALISIBWR- PT. Surya Purnama Semesta merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa pengangkutan, pengumpulan, dan pemanfaat limbah B3.

Pengangkut-Pemusnah -Pengolah -Pemanfaat Limbah B3

Pengelolaan limbah B3 sangat jauh berbeda dengan pengelolaan limbah lainnya. Dalam pengelolaan limbah B3, Penghasil limbah B3 bertanggung jawab untuk memastikan bahwa limbah B3 yang dihasilkannya telah diangkut, dimanfaatkan, dimusnahkan, diolah ataupun ditimbun dengan benar dan sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku. Hal ini dikenal dengan istilah “From Cradle to the Grave”. Hal ini juga bisa diartikan bahwa dalam pengelolaan limbah B3 terdapat beberapa pihak yang bertugas sesuai dengan kapasitasnya masing – masing.

Di dalam pengelolaan limbah B3 terdapat pihak yang disebut sebagai penghasil, pengangkut, pengumpul, pemanfaat, pengolah, penimbun ataupun pemusnah limbah B3. Masing – masing pihak tersebut mempunyai tanggung jawab sesuai kapasitasnya masing – masing. Namun pihak penghasil yang mempunyai tanggung jawab paling besar karena bagaimanapun Pihak Penghasil Limbah B3 mempunyai tanggung jawab untuk memastikan bahwa limbah B3 yang dihasilkannya telah dikelola dengan benar baik berupa dimanfaatkan kembali, dimusnahkan atau bahkan ditimbun ke secure landfill.

Pengelolaan Limbah B3 secara “From Cradle to The Grave”

Istilah “From Cradle to The Grave” seperti diuraikan pada paragraf sebelumnya mempunyai arti bahwa pengelolaan limbah B3 pada keseluruhan tahap baik pada saat dihasilkan, diangkut, dikumpulkan, dimanfaatkan kembali ataupun dimusnahkan/ditimbun harus terkontrol dan terkelola dengan baik. Seluruh tahap dalam pengelolaan limbah B3 telah diatur secara ketat oleh peraturan perundang – undangan yang berlaku. Berikut ini adalah definisi dari masing – masing pengelola limbah B3 diantaranya :

  1. Penghasil Limbah B3 : setiap orang yang usaha dan/atau kegiatannya menghasilkan limbah B3 atau setiap orang yang memiliki limbah B3. Setiap Penghasil limbah B3 wajib untuk memiliki Izin Tempat Penyimpanan Sementara Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun ( Izin TPS Limbah B3 ).
  2. Pengangkut Limbah B3 : badan usaha yang berbadan hukum yang melakukan kegiatan pengangkutan limbah B3. Izin yang wajib dimiliki oleh Pengangkut limbah B3 adalah Izin Pengangkutan Limbah B3 dari Dirjen Perhubungan setelah sebelumnya mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Lingkungan Hidup. Izin yang dimiliki juga secara spesifik menyebutkan jenis – jenis limbah B3 yang diperbolehkan untuk diangkut sehingga tidak semua limbah b3 dapat diangkut oleh pengangkut limbah B3 karena harus sesuai dengan jenis limbah yang tercantum di dalam izin pengangkutan tersebut.
  3. Pengumpul Limbah B3 : badan usaha yang berbadan hukum yang melakukan kegiatan pengumpulan dengan tujuan untuk mengumpulkan limbah B3 sebelum dikirim ke tempat pengolahan dan/atau pemanfaatan dan/atau penimbunan limbah B3. Izin yang wajib dimiliki oleh pengumpul limbah B3 adalah Izin pengumpulan limbah B3 yang dikeluarkan oleh Badan yang menangani pengelolaan lingkungan Hidup. Jika ruang lingkup pengumpulan dilakukan sebatas wilayah dalam kota, maka pengajuan permohonan Izin Pengumpulan ditujukan kepada Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Kota/Kabupaten. Jika ruang lingkup pengumpulan dilakukan lintas kota namun masih dalam satu propinsi, maka pengajuan permohonan izin pengumpulan ditujukan kepada Badan Lingkungan Hidup Propinsi setempat. Begitu pula jika ruang lingkup pengumpulan dilakukan dalam skala nasional maka pengajuan permohonan ditujukan kepada Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Pengajuan permohonan izin pengumpulan dilakukan sesuai dengan ruang lingkup pengumpulannya kecuali untuk pengumpulan oli bekas maka proses perizinannya harus melalui Kementerian Lingkungan Hidup.
  4. Pemanfaat Limbah B3 : badan usaha yang berbadan hukum yang melakukan kegiatan pemanfaatan limbah B3. Pemanfaat Limbah B3 wajib memiliki izin pemanfaat limbah B3 yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Pemanfaatan limbah B3 adalah suatu kegiatan penggunaan kembali (reuse), daur ulang (recycle), dan/atau perolehan kembali (recovery) yang bertujuan untuk mengubah limbah B3 menjadi suatu produk yang dapat digunakan, sebagai substitusi bahan baku, bahan penolong, dan/atau bahan bakar yang harus aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Contoh pemanfaat limbah B3 adalah pabrik semen yang membutuhkan beberapa jenis limbah B3 untuk digunakan sebagai salah satu bahan baku produksi.
  5. Pengolah Limbah B3 : badan usaha yang berbadan hukum yang melakukan kegiatan pengolahan limbah B3. Sama halnya dengan pemanfaat limbah B3, Pegolah Limbah B3 wajib memiliki Izin Pengolahan Limbah B3 yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Pengolahan limbah B3 adalah proses untuk mengubah karakteristik limbah B3 yang bertujuan untuk menghilangkan dan/atau mengurangi sifat bahaya, sifat racun, komposisi, dan/atau jumlah limbah B3, dan/atau mengoperasikan sarana pengolahan limbah B3 yang harus aman bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup.
  6. Penimbun limbah B3 adalah badan usaha yang berbadan hukum yang melakukan kegiatan penimbunan limbah B3. Sedangkan definisi dari penimbunan limbah B3 adalah suatu kegiatan menempatkan limbah B3 pada suatu fasilitas penimbunan dengan maksud tidak membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Penimbun Limbah B3 wajib memiliki izin penimbunan limbah B3 yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Contoh perusahaan yang bergerak dalam bidang ini adalah PPLI.

Dari keenam uraian di atas dapat dilihat bahwa pengelolaan limbah B3 merupakan kegiatan yang terpadu dan integral satu sama lain. Jika salah satu komponen pengelola limbah B3 di atas tidak ada maka pengelolaan limbah B3 secara benar tidak dapat dilaksanakan

Permasalahan Pengelolaan Limbah B3 di Indonesia

Mengacu pada sistem pengelolaan limbah B3 di atas, dapat diketahui bahwa pengelolaan limbah B3 di suatu daerah dapat terlaksana dengan baik jika terdapat seluruh komponen pengelola limbah B3 seperti dijelaskan di atas. Prinsip Pengelolaan Limbah B3 “From Cradle to The Grave” tidak dapat terlaksana dengan baik jika salah satu komponen pengelola limbah B3 di atas tidak berjalan. Untuk daerah Jakarta dan sekitarnya, pengelolaan limbah B3 relatif berjalan dengan baik karena seluruh komponen pengelola limbah B3 telah tersedia. Namun berbeda hal nya dengan wilayah lainnya seperti wilayah Jawa Timur. Sebagian besar pengumpul, Pengangkut, Pengolah, maupun penimbun limbah B3 yang berizin masih berasal dari wilayah Jakarta dan Jawab Barat sehingga hal ini menyebabkan biaya pengelolaan limbah B3 sedemikian tinggi untuk wilayah Jawa Timur.

Sebenarnya beberapa pengumpul, pengangkut, pengolah maupun penimbun limbah B3 yang berizin berada di wilayah Jawa Timur namun tidak semua pengelola limbah B3 tersebut mempunyai izin untuk menampung banyak jenis limbah B3. Di sisi lain banyak jenis limbah B3 yang harus dikelola namun tidak dapat ditampung oleh pengelola limbah B3 karena belum mempunyai izin untuk banyak jenis limbah B3 tersebut.

Bagaimana dengan daerah lain ? Hal yang sama terjadi dengan daerah – daerah lainnya di Indonesia. Akibat belum adanya pengumpul, pengangkut, pengolah, pemanfaat maupun penimbun limbah B3 yang memadai menyebabkan pengelolaan limbah B3 secara “From Cradle to The Grave” tidak dapat dilaksanakan dengan sebagaimana mestinya. Hal ini akan berdampak pada potensi pencemaran limbah B3 yang tidak terkontrol.

Salah satu solusi yang mendesak untuk segera dilaksanakan adalah upaya pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk membantu terciptanya pengelola limbah B3 di tiap tiap daerah sehingga pengelolaan limbah B3 dapat berjalan dengan baik serta dengan biaya yang dapat ditekan seminimal mungkin. Red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *