SEMAR OBRAK ABRIK LANGIT SURALAYA DENGAN PUSAKA ANDALAN JAMUS KALIMOSODO & TUMBAK KOLOWELANG & PAYUNG TUNGGULNOGO

0
599
-- IKLAN --
Gresik Jawa Timur, Media RAJAWALISIBER- Desa Karangkabuyutan, Pagi ini Semar terlihat murung dan bingung, terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa ia sedang memikirkan sesuatu  yang amat sangat ia cemaskan. Melihat hal tersebut Petruk bertanya kepada ramandanya itu, gerangan apa yang sedang terjadi dan yang membuat ayahnya sering melamun.

 

Semar menjelaskan bahwa sebenarnya ia tidak apa-apa, ia hanya mencemaskan nasib kerajaan Amarta, ada sesuatu hal yang mengganjal di hatinya tetapi ia tidak bisa mengungkapkannya. Semar lalu meminta Petruk untuk pergi ke Amarta untuk menemui para punggawa Amarta dan menyampaikan bahwa Ia ingin meminjam tiga pusaka Keraton Amarta yaitu Jamus Kalimasada, Payung Kencana dan Tombak untuk membangun kayangan. Selain itu,Ia juga mengundang Para pandawa untuk segera datang ke Karangkabuyutan. Petruk menerima tugas yang diberikan ayahandanya, dan langsung berangkat menuju negara Amarta.

Sementara di Amarta, Prabu Yudhistira, dihadapan para saudara-saudaranya sedang membahas sebab kegagalan mereka dan membangun negaranya , datanglah raja Dwarati, Kresna yang kemudian menanyakan ketidakhadiran Semar dalam keraton Amarta dan menyatakan bahwa itulah yang menjadi kegagalan tersebut. Oleh karena itu, Kresna memerintahkan Arjuna untuk memanggil Semar dari Karangkabuyutan untuk menghadap ke Amarta.

Tapi, belum Arjuna beranjak dari tempat duduknya, datanglah Petruk menghadap dan memberitahukan bahwa ia diperintahkan Semar untuk mengundang kelima Pandawa untuk menuju Karangkabuyutan dengan membawa tiga pusaka kerajaan untuk membantu Semar mbangun (membangun) kahyangan.

Mendengar hal itu, Kresna langsung melarang Para Pandawa untuk berangkat ke Karangbuyutan, karena ia menganggap bahwa rencana Semar  itu bertentangan dengan kodrat Semar yang diturunkan ke dunia. Terjadilah perdebatan antara Kresna dengan Petruk. Petruk menolak untuk kembali ke karangkabuyutan , dia hanya akan kembali apabila mendapat titah dari Pandawa. Yudhistira pun  akhirnya menyuruh Petruk untuk menunggu di luar paseban untuk menanti keputusan rapat para Pandawa.

Petruk akhirnya menuruti perintah Yudistira, di luar paseban, Petruk bertemu dengan Antasena, putra Bima. Petruk menceritakan semua kejadian yang ada di dalam paseban tadi, Antasena yang memiliki watak bijaksana dan tahu bahwa yang akan dilakukan Semar itu adalah benar, maka ia berjanji akan membantu Petruk menghadapi tindakan Kresna.

Kresna kemudian mengajak Arjuna pergi ke kahyangan Suralaya untuk melapor kepada Batara Guru, dan memerintahkan Gatotkaca, Antareja dan Setyaki mengusir Petruk kembali agar segera balik  ke Karangkabuyutan.

Sementara Prabu Yudhistira bersama BimaNakula dan Sadewa, merasa bimbang. Sadewa, kemudian memberi usul agar mereka bersemedi di depan tempat penyimpanan pusaka kerajaan untuk meminta petunjuk Yang Maha Kuasa. Jika pusaka itu tetap berada di tempatnya setelah mereka bersemedi berarti Kresna lah yang benar, namun apabila pusaka itu jengkar dari tempatnya setelah mereka bersemedi maka Semar lah yang benar.

Mereka kemudian menuju ke tempat pusaka Kraton untuk bersemedi mencari petunjuk. Dan ternyata ketiga pusaka kraton Amarta melesat hilang menuju Karangkabuyutan. Melihat kejadian itu, akhirnya keempat bersaudara ini segera menyadari dan diam-diam berangkat ke Karangbuyutan melalui pintu belakang tanpa sepengetahuan Kresna.

Gatotkaca, Antareja dan Setyaki yang diperintahkan Kresna mengusir Petruk ternyata tidak mampu menghadapi Petruk yang telah bersatu dengan Antasena di dalam tubuhnya. Petruk baru mau kembali ke Karangkabuyutan, setelah Arjuna memerintahkannya. Ia terbang ke Karangkabuyutan dibantu Antasena bersama, Gatotkaca, Antareja dan Abimanyu.

Saat Kresna tiba di Suralaya dan menghadap Bathara Guru, ia melaporkan rencana Semar yang ingin membangun kahyangan menyaingi Suralaya. Mendengar laporan itu, Bathara Guru langsung memerintahkan Betari Durga dan Kresna untuk menghalangi rencana Semar tersebut.

Sementara di Karangkabuyutan, Semar menerima kedatangan Prabu Yudhistira, Bima, Nakula dan Sadewa bersama ketiga pusaka Kraton Amarta yang telah tiba lebih dulu bersama Petruk dan putera-putera Pandawa. Sebenarnya Semar sedikit kecewa karena kedatangan Pandawa hanya empat orang . Namun, semar segera melakukan upacara ritual dengan memasukkan keempat bersaudara tersebut menjadi satu ke dalam tubuh Semar.

Ternyata di dalam tubuh Semar bersemayam Sang Hyang Wenang yang memberikan petunjuk wejangan hidup dan ilmu yang sangat berarti bagi para Pandawa, dan memerintahkan mereka untuk bertapa selama sepuluh hari .

Sementara para putera Pandawa bersama Petruk, Bagong dan Gareng  yang bertugas menjaga diganggu oleh makhluk halus Maling Sukma, namun Semar segera memberikan mantra untuk menghadapi segala kejahatan yang datang.

Kresna yang ditugaskan Bathara Guru untuk menghalangi rencana Semar Membangung Kahyangan menyamar menjadi Raksasa sebesar bukit. Namun ia tidak mampu menghadapi mantra yang diberikan Semar, begitu pula dengan Arjuna yang menyamar menjadi harimau yang sangat besar. Ia menjadi lemas dan tertangkap oleh para putera Pandawa dan meminta ampun kepada Semar.

Kresna pun  tidak luput dari kemarahan Semar, karena sebagai raja ia tidak waspada dan melakukan tindakan tanpa memeriksa terlebih dahulu apa duduk perkaranya.

Bahkan Semar pun marah kepada Bathara Guru dan berangkat ke Suralaya. Semar mengobrak-abrik kahyangan Suralaya, tidak ada satupun senjata yang mampu melumpuhkan Semar, sehingga Bathara Guru melarikan diri ke Karangkabuyutan, namun kemarahan Semar tidak bisa dihindari, dimanapun Bathara Guru bersembunyi pasti berhasil ia temukan. Hingga akhirnya Bathara Guru meminta perlindungan para Pandawa dan meminta ampun kepada Semar.

Setelah kemarahan Semar sudah mereda, akhirnya Bathara Guru diampuni, dan kembalilah beliau ke kahyangan Suralaya.

Dalam lakon Semar Mbangun Kahyangan, semar bermaksud untuk membangun jiwa dari para pemimpinnya. Karena keberadaan Semar saat itu hanya sebagai abdi (rakyat yang tidak bermartabat), maksud baik semar justru dipertanyakan. Bahkan Sri Krisna sendiri berkoalisi dengan para dewa untuk menggagalkan rencana Semar. Mau tidak mau para Pandawa mengikuti keinginan Sri Krisna. Hanya Sadewa yang menentang Sri Krisna dan saudara-saudaranya. Sadewa lebih memilih bersama Semar, demi tegaknya kebenaran. Simbolik cerita dari kisah ini digambarkan dengan tiga pusaka: Jamus Kalimasada, Tumbak Kalawelang dan Payung Tunggulnaga. Semar menghendaki meminjam ketiga pusaka itu untuk membangun Kahyangan. Inilah awal dari pertentangan yang dihadapi Semar.

Semar tetap melanjutkan tekadnya, meskipun tidak direstui oleh para penguasa dan pemimpinnya. Dengan segala kemampuan yang dimilikinya dan tekad yang bulat akhirnya semar berhasil dalam menjalankan tapanya. Jamus Kalimasada adalah pusaka andalan Kerajaan Amarta, Kalimasada tidak lain adalah “Dua Kalimat Syahadat” yang merupakan kunci ke-islaman seseorang. Sedangkan Tumbak Kalawelang, adalah simbol dari ketajaman budi. Tumbak bentuknya menyerupai anak panah, namun lebih besar. Panah berasal dari kata “Manah” = bahasa kawi Jawa kuno. Yang artinya budi pekerti, pikiran, rasa, jiwa. Dalam bahasa Jawa “manah” juga berarti “penggalih”. Kalau penggalih ini sudah sakit, maka seluruh jiwa dan raga akan sakit, seluruh tingkah dan polah manusia akan sakit. Kalawelang, berasal dari dari kata “Kala” dan Welang.
Kala adalah simbol dari berjalannya waktu. Tak ada yang bisa menghalangi berjalannya waktu. Semuanya akan diterjang dan dihancurkan oleh Sang Kala. Welang adalah ular yang yang paling berbisa. Bisa dari ular welang ini sangat mematikan. Namun welang disini berkaitan dengan wulang dan weling, yang mempunyai makna sebagai sebuah ajaran dan pitutur. Dan yang ketiga, adalah pusaka Payung Tunggulnaga. Payung adalah pengayoman. Pengayoman dari para penguasa. Kalau para penguasa dan pejabat sudah tidak bisa mengayomi rakyat, apalah jadinya negara ini. Tunggulnaga, tunggul bermakna meliputi di atasnya, artinya menaungi. Sedangkan Naga adalah gambaran sebuah ular raksasa yang sangat besar. Namun makna sebenarnya adalah kekuatan dari naga itu sendiri. Tidak lain adalah people power. Naga disini bermakna “naga-ra” atau NEGARA. Satu-satunya kekuatan yang mampu menegakkan negara adalah kekuatan rakyat.
Kisah Semar Mbangun Kahyangan, adalah sebuah bentuk edukasi moral. Sebenarnya merupakan sindiran bagi para penguasa. Begitulah pujangga pada jaman dulu. Tidak berani mengkritisi para penguasa secara terang-terangan. Namun secara terselubung membuat suatu lakon cerita yang sebenarnya sangat tepat jika disebut sebagai nasehat. Rakyat jelata adalah sentral dari lakon Semar Mbangun Kahyangan. Petruk diutus Semar untuk meminjam ketiga pusaka Kerajaan. Namun di Sitihinggil Kraton Amarta bertemu dengan Sri Krisna. Setelah mengutarakan maksudnya, Petruk malah dicaci-maki oleh Sri Krisna. Dianggap tidak tahu diri, karena hanya dari kalangan rakyat jelata berani meminjam pusaka andalan kerajaan. Akhirnya Petruk dihajar sampai babak belur dan diusir pula. Sadewa melihat keadaan seperti itu sangat trenyuh hatinya. Ia pergi meninggalkan kedaton, mengikuti Petruk untuk menjumpai Semar.
Para kadang Pandawa hanya mengiyakan pendapat Sri Krisna. Semar bukannya malah marah mengetahui kejadiannya seperti itu, ia justru menangis tersedu. Melihat pada penguasa yang tidak punya pendirian. Tangisan Semar rupanya didengar oleh ketiga pusaka yang ia kehendaki dalam mendampingi tapanya. Ketiga pusaka itu datang menghampiri Semar ke Karangkabuyutan dimana Semar tinggal. Mengetahui ketiga pusaka andalan itu muksha (menghilang), para kadang Pandawa kebingungan.
Saat Sri Krisna menghadap Bathara Guru. Mereka berdua bersekongkol untuk menghalangi dan menggagalkan usaha Semar untuk Mbangun Kahyangan. Disinilah eksistensi spiritual Semar diuji. Jatidiri seorang Semar yang sebenarnya muncul. Bahkan kekuatan dan kesaktian Bathara Guru pun tidak ada artinya sama sekali. Bathara Guru adalah dewa paling berkuasa di Kahyangan. Niat tulus, jiwa yang ikhlas, serta semangat dan tekad yang bulat dari Semar ternyata membuahkan hasil. Dengan didampingi ketiga pusaka, yang tidak lain adalah “Syahadat” yang merupakan kunci ke-isalaman,
Tumbak Kalawelang, pikiran dan hati yang bersih namun tajam, Serta Payung Tunggulnaga, sebuah usaha untuk melindungi dan memberikan pengayoman pada seluruh rakyat jelata. Setelah mengetahui niat semar yang sebenarnya, para kadang Pandawa kembali bersatu. Dan Sri Krisna meminta maaf kepada Semar.
Semar yang sebenarnya adalah “dewa” yang mengejawantah, hidup menyamar sebagai rakyat kecil. Sering nasibnya “ketula-tula” diremehkan dan disakiti. (dirangkum dari cerita pewayangan ” Semar Mbangun Khayangan” ), Red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here