Sunatan Musthofa Nongmalang Bangkalan Madura Di Iringi Jaran Kencak Bertabur Saweran Ibu Ibu (VIDEO)

  • Whatsapp

Bangkalan Kepulauan Madura, Media www.rajawalisiber.com – Banyaknya tradisi warisan nenek moyang yang tetap dilestarikan hingga kini. Salah satunya, tradisi di Madura, Usia anak sebelum masa baligh dikhitan atau disunat.

Musthofa, putra pasangan Saidi dan Supiah, warga Desa Nongmalang, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan Kepulauan Madura, Jawa Timur, Senin (10-08-2020) hari ini, akan dikhitan. Sebelum dikhitan, terlebih dahulu digelar ruwatan atau selamatan dengan secara Agama Islam.

Ustad Nawas, tokoh masyarakat, sebelum membacakan doa menyampaikan, mengkhitan anak adalah suatu keharusan. Anak sebelum baligh disunat tetapi digelar doa bersama sebelum berangkat di sunat ke dokter.

“Semoga Musthofa yang akan dikhitan sekarang ini, akan menjadi anak sholeh yang berbakti kepada kedua orang tuanya, agama dan bermanfaat buat bangsa dan negara kita,” harapnya.

Selesai di khitan Ayah Musthofa ( Bpk Saidi ) mendatangkan Jaran Kejang, dalam hal Jaran Kejang adalah Kuda yang dihias untuk menghibur warga sekitar.

Pada Awalnya Jaran Kencak disebut dengan Jaran Kepang meskipun bukan terbuat dari anyaman bambu, karena pada saat itu tahun 1775 kuda yang dikendarai rombongan dari Kabupaten Ponorogo hendak mengirimkan delegasi ke Bali, untuk menjalin persaudaraan kerabat dan sudara Batara Kathong dari kerajaan Majapahit yang mengungsi ke Bali serta membawa berita bahwa kesultanan Mataram terbagi menjadi dua yakni Yogyakarta dan Surakarta .

Namun ketika sampai di Lumajang, kuda yang di kenakan seragam zirah perang seperti di pewayangan untuk di persembahkan di Bali memberontak kesana kemari dan menendang-nendang tiada henti melawan rombongan, hingga dibuat sebuah keputusan bahwa kuda dan beberapa penjaga untuk tetap tinggal di Lumajang untuk menenangkan kuda, sedangkan rombongan tetap melanjutkan ke Bali.

Hingga akhirnya kuda yang memberontak menjadi tenang dan jinak kembali, warga sekitar yang melihat kuda dijinakan tersebut merasa terhibur, Sejak saat itu menjadi sebuah kesenian bernama Jaran Ngepang yang berarti kuda menendang, tetapi lebih dikenal dengan nama Jaran Kepang.

Pada tahun 1806, Cakraningrat Sampang memindahkan sebanyak 250.000 orang Sampang madura ke pulau Jawa bagian tapal kuda seperti Lumajang. Orang Madura yang menjadi punduduk Lumajang juga menggemari kesenian bernama Jaran Kepang ini, karena seokor kuda dengan kostum perang khas pewayangan jawa bertarung berdiri menggunakan dua kaki dengan pawangnya, setelah kemerdekaan Republik Indonesia Jaran Kepang lebih di kenal dengan Jaran Pencak dan menjadi Jaran Kencak yang dikenal hingga saat ini.

Munculnya Reyog di Lumajang dan Jember yang di bawa oleh orang Ponorogo langsung pada tahun pada tahun 1922 mempengaruhi kembali pada jaran kencak. kalah populernya jaran kencak dengan banyaknya Reog Ponorogo di Lumajang yang sering pentas dan rekaman piringan VCD, pada tahun 2011 muncul inovasi kostum jaran kencak menyerupai Reog Ponorogo dengan berbagai macam pernak-pernik, rumbai-rumbai, untaian benang khas Reyog, kostum yang lebih besar dengan warna yang warna-warni dan bulu merak pada kuda untuk menarik perhatian seperti halnya reog.

Jenis jaran kencak hias ini tidak melakukan atraksi seperti jensi pencak yang melakukan berbagai gerakan tubuh pada kuda.

musik yang di gunakan pada jaran kencak di lumajang ada dua jenis.

1. Gamelan Reyog, dengan musik rancak khas Bali dan terompet bernadakan khas reyog

2. Gamelan Saronen, dengan musik rancak khas Bali dan terompet bernadakan khas madura

Saronen adalah musik rakyat yang tumbuh berkembang di Madura. Harmonisasi yang dinamis, rancak, dan bertema keriangan dari bunyi yang dihasilkannya memang dipadukan dg karakteristik dan identitas masyarakat Madura yang tegas, polos, dan sangat terbuka mengilhami penciptanya. Saronen berasal dari bahasa Madura ” sennenan ” (Hari Senin).

Sering berkunjunganya penguasa Sumenep Arya Panoleh ke tempat kakaknya Batara Katong yang berkuasa di Ponorogo untuk bersilaturahmi. Saat di ponorogo, rombongan dari sumenep di sambut dengan persembahan reyog dan atraksi memukau yang dilakukan oleh orang-orang berpakaian hitam. Dari sinilah awal mulanya Selompret pada gamelan reyog dikenal oleh rombongan sumenep dengan nama Saronen.

Selain gamelan reyog yang di terapkan di Sumenep, juga pakaian warok serba hitam dengan kaos bergaris-garis, makanan seperti Sate yang awalnya dari tusuk lidi dan angklung yang hanya dapat di temukan di sumenep saja di seluruh dataran madura. Dengan begitu, Sumenep yang merupakan kiblat orang madura, budaya dari ponorogo yang di terapkan di sumunep mulai menyebar ke seluruh madura. Tetapi bagaimanapun juga setelah di terapkan di madura, masih terdapat perbedaan anatara budaya dari tanah budaya Ponorogo dengan budaya madura.

Adalah seorang Kyai Khatib Sendang ( cicit Sunan Kudus ) bertempat tinggal di Desa Sendang Kecamatan Pragaan ratusan tahun silam menggunakan musik ini sebagai media dakwah dalam mensyiarkan Agama Islam. Konon setiap hari pasaran yang jatuh pada setiap hari senin, Kyai Khatib Sendang dan ipara pengikutnya menghibur pengunjung pasar disertai penari berpakaian ala badut. Setelah para pengunjung pasar pada berkumpul, mulailah Kyai Khatib Sendang berdakwah memberi pemaparan tentang Islam dan kritik sosial. Gaya dakwah yang kocak humoris tetapi mampu menggetarkan hati pengujung membuat masyarakat yang hadir tertarik langsung minta baiat masuk Islam.

Ciri khas musik SARONEN ini terdiri dari sembilan instrumen yang sangat khas, karena disesuaikan dengan nilai filosofis Islam yang merupakan kepanjangan tangan dari kalimat pembuka Alqur’anul Karim yaitu ” Bismillahirrahmanirrahim “, yang kalau dilafalkan terdiri dari sembilan keccab.

Kuda yang di hias di arak berkeliling di halaman dengan di iringi Kesembilan instrumen musik SARONEN yang terdiri dari: 1 saronen, 1 gong besar, 1 kempul, 1 satu kenong besar, 1 kenong tengahan, 1 kenong kecil, 1 korca, 1 gendang besar, 1 gendang dik-gudik ( gendang kecil ).

Yang menarik dan menjadi jiwa dari musik ini satu alat tiup berbentuk kerucut, terbuat dari kayu jati dengan enam lubang berderet di depan dan satu lubang di belakang. Sebuah gelang kecil dari kuningan mengaitkan bagian bawah dengan bagian atas ujungnya terbuat dari daun siwalan .

Pada pangkal atas musik itu ditambah sebuah sayap dari tempurung menyerupai kumis, menambah kejantanan dan kegagahan peniupnya. Alat tiup yg mengerucut ini berasal dari Timur Tengah yang dimodifikasi bunyinya. Pada perhelatan selanjutnya musik saronen ini dipakai untuk mengiringi lomba kerapan sapi, kontes sapi sono’, upacara ritual, resepsi pernikahan, Hajatan Khitanan kuda serek ( kencak ) dll. (disadur dari berbagai sumber sebagai budaya adat istiadat Jawa/ Madura)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. With havin so much content do you ever run into
    any issues of plagorism or copyright infringement? My blog has a lot of completely unique
    content I’ve either created myself or outsourced but it seems a lot of it is popping it up
    all over the web without my agreement. Do you know any
    solutions to help protect against content from being stolen? I’d really appreciate it.