Menuju Jakarta Kota Metropolis Madani yang bebas dari Polemik Banjir

Polemik Banjir di DKI Jakarta dan Solusinya
πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨

 

 

Media www.rajawalisiber.comΒ  – Kasihan warga DKI, selalu tertawaπŸ˜πŸ˜‚ di musim panasπŸ’₯ namun menangis😒😭 di musim hujan🌨️🌧️. Akankah kisah pilu ini selamanya terjadi ???. Namun tak perlu saling menyalahkan, semua pemimpin pendahulu dan saat ini, telah bekerja maksimal dengan menggerakkan seluruh potensi yang ada untuk mengatasi persoalan tersebut. Nah muncul pertanyaan, mengapa Jakarta masih banjir ??? Apa Jakarta akan selamanya alami banjir di musim hujan ???, Mengapa ??? Padahal Jakarta pusat ibu kota negara, yang dilengkapi semua fasilitas utama ???. Kok kami di Papua yang nota bene banyak sungai dan rawa jarang terjadi banjir ???. Apa perencanaan ataukah cara, metode, pembiayaan ada yang salah dalam upaya tersebut ???.

*Selayang pandang konsep penanganan banjir di belahan dunia πŸŽ–οΈπŸŽ–οΈπŸ΅οΈ :*
1. *Belanda πŸ€”β„οΈ :* sepertiga wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Belanda dikenal sebagai negeri kuncir angin polder karena kincir angin menyelamatkan negara tersebut dari bencana banjir di tahun 1953. Cara kerja kincir adalah; memompa air keluar dari rawa dan membuat polder Β± 3000 yang dikelilingi tanggul. Belanda juga membuat delta works/rantai besar dinding penahan banjir (13 petakan bendungan termasuk penghalang, pintu air dan pengunci dan membuat tanggul di sekitar wilayah sungai Rhine, Meuse, dan Scheldt. Cara ampuh belanda ialah naturalisasi, restrukturisasi dan normalisasi.

2.*Tokyo πŸ€”β„οΈ :* (metropolitan area outer underground discharge channel ‘MAOUDC’) caranya dengan membuat latedral bawah tanah/bendungan penampungan air bawah tanah, dibangun tahun 1993 dengan tinggi 25 meter setara gedung 6 lantai dengan penyangga puluhan menara selinder setinggi 70 meter yang masing2 bisa menampung 14 juta ton air.

3. *Venice πŸ€”β„οΈ :* Menggunakan teknologi MOSE Project. Sistim penanggulangan banjir dengan metode gerbang/taluk penangkal yang bisa bergerak.

4. *Korea Selatan πŸ€”β„οΈ:* Mengatasi banjir dengan membangun dam/tembok laut di muara seamangeum, sepanjang 33 km dengan lebar 36,5 meter dan tinggi 290 meter.

5. *Kota Cutritiba πŸ€”β„οΈ :* Ibu kota negara bagian Parana Brazil. Pola pembangunan radial segaris bercabang. Artinya; dengan kombinasi pengaturan zona lahan transportasi dan mengubah area rawan menjadi taman dan membangun danau penampungan air.
6. *Swiss πŸ€”β›ˆοΈ :* Bagaimana kota Lucerne Swiss Tengah luput dari banjir yakni dengan cara pompa air jika dan pemasangan bentaran plastik. Jika air danau vierwaldstersee meluap masuk kota Rathaurser maka akan langsung dipompa dan dikembalikan ke danau tersebut.
7. Berbagai negara di dunia seperti Tiongkok dll juga punya cara tersendiri dalam upaya penanganan banjir.

*Nah mari kita kaji dan refleksikan substansi dari banjir πŸ€”πŸŒ§οΈβ›ˆοΈ :*
1. Apakah banjir itu, dikategorikan bencana alam ??? Jika demikian, Lalu siapa yang patut disalahkan ???
2. Apakah Jakarta ditakdirkan sebagai kota banjir untuk selamanya ???, tulah atau kutukan ??? Sepertinya *TIDAK* sebab Jakarta adalah Kota yang diberkati sebagai kota Madani pusat pemerintahan NKRI saat ini.

3. Mengapa segala cara digunakan dengan dukungan finansial yang fantastis namun Jakarta masih saja alami banjir bandang di musim hujan ???, apakah caranya belum tepat ??? Dananya kurang banyak ??? Ataukah harus ada refleksi strategi dan cara khusus untuk mengatasi pergumulan banjir ???

πŸ€”β„οΈ Semua cara yang dilakukan selama ini, tepat dan baik adanya namun ada hal substansi perlu dicatat ialah kebijakan tak menyentuh esensi dari polemik yang di alami. Mengapa bisa dikatakan demikian ??? Sebab Jakarta masih saja banjir. Mengapa Jakarta selalu alami banjir ??? :
1. Karena wilayah Jakarta tak seimbang antara lahan hijau dan pembangunan infrastruktur. Artinya ??? Tanah di Jakarta hampir 85% tertutupi pembangunan sementara daya serap air ke permukaan tanah sangat kecil atau hanya sekitar 15% sajaπŸ€¦πŸΌβ€β™‚οΈ.
2. Kesadaran akan pentingnya kebersihan rendah. Budaya buang sampah sembarangan masih marak di Jakarta.
3. Program normalisasi sungai dan kali di Jakarta tak maksimal. Artinya: Pembangunan normalisasi dilakukan namun lemahnya di manajemen kontrol normalisasi oleh pihak terkait.
4. Pembangunan tanggul dari kamal muara sampai jali blencong sepanjang 140 km masih belum cukup untuk menahan pasang surutnya air laut atas potensi banjir akibat hujan.
5. Bendungan air (Bendungan Air BKT, Pintu Air Manggarai dan Pintu Air Karet), dibangun tak melihat rute aliran lintasan air atas tingkat kemiringan wilayah, artinya; arah aliran banjir tak searah atau berlawanan sehingga aliran air akibat banjir tak teraliri ke titik tampungan, dan bahkan menyisir wilayah pemukiman warga.
6. pipa drainase saluran di pemukiman rusak, kotor dan tak terawat sehingga saat musim hujan debit air makin naik ke permukaan tanah.
7. Penimbunan daratan dan Pembangunan pantai/kawasan reklamsi berakibat titik air jadi naik, sebab terdapat jarak dan rongga air dalam laut dan aliran air di selat Jakarta sehingga jika air pasang pastinya kawasan pantai jakarta mengalami banjir atas arus air laut namun belum di minimalisasi dengan tanggul penahan ombak dan arus laut.

*Lalu apa solusinya ??? :*

Jika di masa pandemic Covid-19, ada slogan berdamai dengan Covid-19, maka alangkah baiknya konsep pemulihan Jakarta ialah berdamai dengan alam (banjir), itu poin utamanya.

Caranya sangat mudah dan tak memerlukan energi besar. Mengapa, sebab banjir bukan tantangan jakarta yang sebenarnya, sebaliknya banjir adalah peristiwa sah secara alamiah. Nah mudah kan 🀭😊. Lalu bagaimana caranya πŸ€”β„οΈ:
1. Kementerian PUPR, bersama pihak terkait membuat perencanaan program normalisasi bendungan, dan memperdalam bendungan air BKT, Pintu Air Manggarai dan Pintu Air Karet dengan cara gali dan keruk perdalam lagi minimal 20 meter kedalam tanah, agar kapasitas penampungan air memenuhi debit air akibat banjir.
2. Kementerian PUPR bersama Bapenas dan pihak terkait, merencanakan dan membangunan talud di sepanjang sungai dan kali yang ada di area Jakarta agar debit air akibat banjir tak meluap ke kawasan pemukiman dan jalan utama.
3. Pemda DKI Jakarta Menambah mesin pompa air di kawasan titik rawan banjir, dan membangun saluran pipa utama ke tempat pembuangan bibir sungai yang telah di talud agar jalannya air ke penampungan bendungan tak mengganggu aktivitas masyarakat.
4. Pemda DKI Jakarta bekerjasama dwngan kementerian PUPR untuk Perpanjang pembangunan talud di kawasan pantai Jakarta untuk menekan arus laut dan debit ombak ke permukaan daratan Jakarta.
5. Dinas PUPR Propinsi DKI bersama pihak terkait, mendata Setiap sudut kiri dan kanan ruas jalan utama di wilayah Jakarta. Caranya; di potong Β±1-1,5 cm hingga tembus ke tanah dan diberi rongga agar hujan tak menetes dan membanjiri jalan utama alur transportasi kendaraan umum.
6. Normalisasi pipa air dan Gorong-gorong yang tersumbat dan tak berfungsi lagi agar peredaran air kembali normal
7.Sebagai manusia yang tak luput dari salah dan dosa, Pemerintah DKI dan FKUB mengadakan syukuran dan doa (Berdamai dengan Alam), bersama mohon pengampunan dari Tuhan Allah Yang Maha Kuasa, agar wajah Jakarta kembali membinar dari berbagai bencana dan musibah.
8. Pemerintah DKI menggalakkan program Sahabat alam dan penghijauan setiap sudut Jakarta
9. Pemerintah DKI memberi stimulan dana khusus untuk menambah Pasukan Orange dengan membentuk pasukan Hijau dan Kuning di setiap RT dan RW se DKI Jakarta untuk kebersihan lingkungan dan penanggulangan bencana.
Mengapa ??? Sebab kesadaran harus terbentuk dari masyarakat melalui fungsi RT/RW.
10. Pembangunan Flood Controller System untuk upaya prediksi potensi bencana dan untuk optimalkan penanganan saat adanya bencana. Namun ingatlah, secanggih apapun sistim kontrol tak menjamin keamanan saat bencana alam datang. Sebab itu lalukan tindakan pencegahan bukan pendeteksian akan suatu bencana. Sebabyang namanya bencana datang disaat dan waktu yang tak terduga oleh ketidaksempurnaan pikiran manusia. Sebab alam adalah Sang alam dan manusia adalah penikmat hasil atas alam.
11. Sosialisasi yang terencana dan berkesinambungan sampai tingkat RT/RW, dalam rangka pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan Jakarta untuk mencega terjadinya musibah

*Cinta Kasih Menyatukan segala Perbedaan dan MerahπŸ‡²πŸ‡¨Putihkan Indonesia Raya*
πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨

*Andy S KomberπŸ™πŸΌ*
Suara Anak Papua

Leave a Reply

Your email address will not be published.