“Dampak yang dialami masyarakat lokal mencerminkan realitas yang sering kali terabaikan dalam narasi pertumbuhan ekonomi, yaitu biaya sosial dan kemanusiaan (human cost) dari industrialisasi yang agresif. Ketika sebuah kawasan bertransformasi menjadi pusat industri padat tanpa mitigasi sosial yang kuat, tekanan yang dihadapi warga lokal tidak lagi sebatas kerusakan fisik lingkungan, melainkan meluas menjadi beban psikologis, tekanan psikis, dan disintegrasi sosial.”
Media www.rajawalisiber.com – Isu mengenai kondisi lingkungan di wilayah pesisir dan laut Gresik merupakan topik penting yang menjadi perhatian berbagai pihak, baik masyarakat, akademisi, maupun pemerintah.
Tuntutan untuk melakukan audit lingkungan secara menyeluruh mencerminkan kekhawatiran mendalam atas dampak aktivitas industri terhadap ekosistem pesisir serta kesehatan fisik dan psikologis masyarakat sekitar.
Dalam menanggapi kompleksitas isu lingkungan di kawasan industri seperti Gresik, terdapat beberapa perspektif yang berkembang,
• Perspektif Dorongan Audit dan Penegakan Hukum: Pihak yang mendorong langkah ini menilai bahwa polusi dari limbah industri—baik cair maupun padat—memerlukan transparansi data dan evaluasi independen. Audit menyeluruh dianggap krusial untuk memetakan sumber pencemaran, memastikan kepatuhan industri terhadap regulasi lingkungan, serta merumuskan langkah pemulihan (remediasi) bagi wilayah yang terdampak demi melindungi hak-hak masyarakat.
• Perspektif Tata Kelola dan Upaya Pemerintah: Di sisi lain, instansi pemerintah terkait (seperti Dinas Lingkungan Hidup) umumnya menekankan bahwa pengawasan, pemantauan kualitas air laut, dan evaluasi dokumen lingkungan (seperti AMDAL) sudah berjalan melalui mekanisme regulasi yang ada.
Upaya sering kali difokuskan pada pembinaan industri agar memenuhi baku mutu limbah, penerapan sanksi bagi pelanggar aturan secara bertahap, serta penataan kawasan industri agar lebih terintegrasi.
• Tantangan Keseimbangan Ekonomi dan Lingkungan: Sebagai salah satu pusat industri utama di Jawa Timur, pengelolaan wilayah Gresik selalu dihadapkan pada tantangan untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan kelestarian daya dukung lingkungan hidup secara berkelanjutan.
Penyelesaian masalah ini membutuhkan kolaborasi erat antara keterbukaan informasi dari pelaku industri, ketegasan pengawasan dari otoritas berwenang, serta partisipasi aktif masyarakat dan akademisi dalam mengawal kualitas lingkungan di kawasan pesisir.
Berdasarkan data komunitarian, investigasi organisasi lingkungan, serta berbagai kajian ilmiah, beban paparan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di pesisir dan laut Gresik berada pada tingkat akumulasi yang signifikan akibat aktivitas industri padat selama bertahun-tahun. Sebagai salah satu koridor industri terbesar di Jawa Timur, wilayah pesisir Gresik menampung polutan kimia kompleks yang masuk melalui muara sungai maupun pembuangan langsung (direct discharge).
Berikut adalah gambaran sejauh mana pencemaran kimia B3 telah mengontaminasi kawasan pesisir pantai dan laut Gresik.
Akumulasi Logam Berat di Air dan Sedimen Laut, Zat kimia berbahaya dari jenis logam berat tidak dapat terurai secara alami (non-biodegradable), melainkan mengendap di dasar laut dan menumpuk pada tubuh biota. Beberapa temuan utama meliputi.
• Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd): Riset distribusi logam berat di perairan pesisir Gresik menunjukkan konsentrasi Timbal (Pb) di beberapa titik muara industri dan pelayaran telah melebihi ambang batas baku mutu air laut untuk biota. Kadmium (Cd) juga terdeteksi tinggi di area perairan dangkal dekat pemukiman nelayan dan kawasan industri Manyar.
• Tembaga (Cu) dan Merkuri (Hg): Industri peleburan logam, pabrik kimia, dan penggunaan batu bara (fly ash dan bottom ash) menjadi kontributor utama masuknya senyawa ini ke Selat Madura bagian barat.
Polutan Dominan di Area Reklamasi dan Pesisir, Kajian lingkungan terbaru dari organisasi seperti Ecoton menunjukkan dinamika pencemaran spesifik di pesisir utara Gresik (seperti Manyarejo dan kawasan Mengare):
• Dominasi Amonia dan Fosfat: Hasil pengujian kualitas air laut di dekat proyek reklamasi pesisir menunjukkan lonjakan kadar fosfat dan amonia yang sangat tinggi. Senyawa kimia ini memicu berkurangnya kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) di laut.
• Kerusakan Mangrove: Tingginya paparan kimia industri serta dugaan urukan material ilegal berkarakteristik B3 memicu kematian massal vegetasi hutan mangrove di pesisir Manyarejo, yang mengering dan mati akibat toksisitas tinggi.
Modus Operandi Beban Limbah Fisik (Solid Waste), Selain limbah cair yang langsung mencemari laut, beban B3 padat di daratan pesisir kerap kali berpindah ke laut melalui limpasan air hujan (run-off).
• Praktik Open Dumping: Beberapa kasus penimbunan ilegal (open dumping) limbah sisa pembakaran besi (slag) dan residu oli/solar (sludge) ditemukan di dekat area tambak dan parit yang bermuara langsung ke laut.
• Rembesan Zat Kimia: Penimbunan terbuka padatan hitam B3 di wilayah seperti Kebomas dan Manyar melepaskan lindi (cairan beracun) saat musim hujan, mencemari air tanah pantai, dan akhirnya terkumpul di laut.
Dampak Biomagnifikasi pada Rantai Makanan, Indikator paling mengkhawatirkan dari sejauh mana polusi B3 ini bekerja adalah dampaknya pada konsumsi pangan lokal. Pengujian pada ikan belanak, kerang, dan ikan bandeng hasil tangkapan nelayan pesisir Gresik menunjukkan bahwa jaringan tubuh biota tersebut telah menyerap (bioakumulasi) logam berat.
Ketika masyarakat mengonsumsi hasil laut ini dalam jangka panjang, racun kimia tersebut berpindah ke manusia, memicu risiko penyakit fisik kronis serta beban kecemasan psikologis di kalangan warga pesisir.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lampiran VIII), pemerintah telah menetapkan batas maksimum kandungan logam berat terlarut di laut.
Secara geografis, wilayah Kabupaten Gresik dilewati oleh tiga sistem sungai utama yang menjadi koridor hidrologi sekaligus jalur transportasi utama limbah (baik domestik maupun industri padat B3) menuju laut.
Muara Sungai Bengawan Solo (Sidayu & Ujungpangkah)
• Lokasi Muara: Terletak di bagian utara Gresik, berujung di delta baru kawasan Ujungpangkah dan Kecamatan Sidayu.
• Karakteristik Aliran: Menjadi muara akhir dari perjalanan sungai terpanjang di Pulau Jawa. Aliran sungai ini melintasi berbagai kota industri di Jawa Tengah dan Jawa Timur sebelum melepaskan airnya ke Laut Jawa.
• Potensi Beban Limbah: Muara ini membawa akumulasi limbah padat dan cair yang sangat kompleks. Di sepanjang perjalanannya, sungai ini menampung limbah industri tekstil/batik, zat kimia ciu, sisa pembuangan domestik, serta limpasan pestisida pertanian. Zat kontaminan ini mengendap di wilayah delta dan memengaruhi kualitas tambak bandeng di sekitarnya.
Muara Kali Mireng & Anak Sungai Manyar (Kawasan Industri Manyar)
• Lokasi Muara: Berada di wilayah pesisir Kecamatan Manyar, memotong pusat zona industri padat (termasuk kawasan megaprofil industri terintegrasi JIIPE) dan bermuara ke Selat Madura bagian utara.
• Karakteristik Aliran: Kali Mireng memiliki jajaran anak sungai kecil (seperti Sungai Baru dan Bengawan Mati) yang jalurnya bersinggungan langsung dengan pembuangan (outlet) industri manufaktur, kimia, dan pengolahan logam.
• Potensi Beban Limbah: Titik muara ini menjadi jalur kritis masuknya limbah kimia B3 cair dan logam berat terlarut (seperti Timbal dan Kadmium) akibat kedekatannya dengan pabrik-pabrik kimia skala besar. Aktivitas urukan/reklamasi di pantai Manyar juga mempersempit retensi alami tanaman mangrove dalam menyaring polutan sebelum lolos ke laut lepas.
Muara Kali Lamong (Koridor Selatan – Perbatasan Gresik-Surabaya)
• Lokasi Muara: Berada di perbatasan pantai timur Kabupaten Gresik (Kebomas) dan wilayah Surabaya Barat, mengalir langsung menuju perairan Selat Madura.
• Karakteristik Aliran: Daerah Aliran Sungai (DAS) Lamong melintasi area padat penduduk dan kawasan industri komersial di sisi selatan Gresik (seperti Driyorejo dan Menganti).
• Potensi Beban Limbah: Kali Lamong sangat rawan membawa limpasan limbah industri rumahan, sisa oli/pelumas kendaraan, serta sampah mikroplastik dalam jumlah masif. Ketika curah hujan tinggi dan sungai meluap, polutan padat yang tertimbun di bantaran sungai ikut terhanyut dan menumpuk di area muara, merusak ekosistem hutan bakau pesisir perbatasan.
Ketiga muara sungai ini bertindak sebagai “jalur tol” masuknya kontaminan dari daratan ke perairan. Sifat zat kimia B3 yang tidak dapat hancur membuatnya terperangkap dalam sedimen lumpur pantai dan diserap oleh biota laut setempat
Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Gresik, koridor pesisir Kecamatan Manyar ditetapkan sebagai Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Khusus. Wilayah pesisir sepanjang Manyar-Gresik ini membagi konsentrasi sektor industri berdasarkan skala dampak, zonasi pelabuhan, dan pemanfaatan ruang ruang laut.
Pembagian Blok & Karakteristik Zonasi Industri Pesisir Manyar
1. Blok Utara Pesisir (Kawasan Ekonomi Khusus / KEK)
• Pusat Area: Desa Manyarejo, Manyarsidorukun, hingga batas Bungah.
• Karakteristik Khusus: Zona ini didominasi oleh Kawasan Industri JIIPE Gresik yang berstatus objek vital nasional dan KEK. Industri di blok ini memiliki klasifikasi Heavy Industry (Industri Berat) yang membutuhkan integrasi pelabuhan laut dalam (Deep Sea Port) untuk suplai logistik internasional.
• Potensi Beban Lingkungan: Menampung industri pemurnian logam skala besar (Smelter) dan pabrik kimia dasar. Risiko tinggi bersumber dari limpasan proyek reklamasi pesisir dan pembuangan air limbah termal/kimiawi ke Selat Madura.
2. Blok Tengah Pesisir (Zona Manufaktur & Dermaga Mandiri)
• Pusat Area: Desa Sukomulyo, Tenger, dan Roomo.
• Karakteristik Khusus: Wilayah ini dikuasai oleh kawasan industri eksisting seperti PT Maspion Industrial Estate. Karakteristik utamanya adalah pemanfaatan garis pantai untuk Dermaga Untuk Keperluan Sendiri (DUKS) yang digunakan oleh puluhan pabrik menengah hingga besar untuk bongkar muat bahan kimia cair mau pun padat.
• Potensi Beban Lingkungan: Terjadi tumpang tindih ruang yang sangat ketat antara pipa pembuangan industri, pelabuhan logistik, dan area pemukiman padat serta sisa tambak udang/bandeng warga.
3. Koridor Selatan (Zona Transisi Industri Kimia & Pupuk)
• Pusat Area: Perbatasan Manyar menuju Kebomas (Kawasan Kali Mireng ke arah komplek Petrokimia).
• Karakteristik Khusus: Merupakan area industri tertua di Gresik yang terhubung dengan Kantor Pusat Kawasan Industri Gresik (KIG). Fokus utama blok ini adalah logistik kimia padat, pergudangan, dan industri manufaktur konsumen.
Kebijakan Penataan Ruang Laut & Pesisir (RZWP-3-K), Berdasarkan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) Provinsi Jawa Timur, tata ruang laut Manyar-Gresik telah dikunci untuk Zona Pemanfaatan Umum sub-zona Bandar Udara/Pelabuhan dan Industri. Alokasi ruang untuk kawasan konservasi mangrove di Manyar kini mengalami tekanan besar akibat perubahan tutupan lahan menjadi daratan industri. Redaksi