“Sabtu, 7 Oktober: dunia terbangun dalam keter震惊an. Lebih dari 1.300 warga sipil Israel baru saja dibantai. Diperkirakan sekitar 1.139 hingga 1.200 orang tewas di pihak Israel, dengan mayoritas adalah warga sipil. Data resmi mencatat sekitar 859 warga sipil dan ratusan personel keamanan (tentara dan polisi) menjadi korban.”
Media www.rajawalisiber.com – Sementara penduduk mengira mereka aman di balik temboknya, kubah besi dan kawat berduri, dan dilindungi oleh tentara yang tak terkalahkan, negara itu mengalami serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di pucuk pimpinan adalah kelompok teroris: Hamas. Sebuah faksi Islamis yang tidak seorang pun, dan terutama bukan dinas intelijen Israel, percaya mampu melakukan operasi seperti itu.
Jadi siapa orang-orang ini, dahi mereka diikat dengan pita hijau, yang mampu melakukan kekejaman seperti itu? Siapa pendukung organisasi tersebut? Bagaimana mereka berhasil merencanakan serangan ini?
Peristiwa tanggal 7 Oktober 2023 menandai salah satu hari paling kelam dalam sejarah Israel modern. Serangan mendadak yang dipimpin oleh Hamas ini, yang disebut sebagai “Operasi Banjir Al-Aqsa”, berhasil menembus pertahanan yang dianggap tak tertembus di perbatasan Gaza.
Berikut adalah poin-poin utama dari peristiwa tersebut:
Korban Jiwa & Sandera: Serangan tersebut mengakibatkan lebih dari 1.200 orang tewas, sebagian besar warga sipil, dan sekitar 250 orang disandera dan dibawa ke Jalur Gaza.
Kejutan Strategis: Serangan ini mengejutkan sistem intelijen Israel dan melumpuhkan pangkalan militer di sekitar perbatasan Gaza pada jam-jam awal.
Infiltrasi: Militan Hamas menerobos pagar perbatasan yang dijaga ketat di berbagai titik melalui jalur darat, udara (paraglider), dan laut, lalu menyerang komunitas kibbutz dan festival musik Nova.
Dampak: Peristiwa ini memicu perang habis-habisan di Gaza, yang oleh Israel disebut sebagai perang untuk melenyapkan Hamas.
Serangan ini digambarkan sebagai kegagalan intelijen terbesar bagi Israel dan menimbulkan dampak psikologis yang mendalam, menghancurkan rasa aman penduduk di balik benteng perbatasan.