“Pernyataan Sofia Calltorp, Kepala Aksi Kemanusiaan UN Women – yang kutipan teksnya dapat dikaitkan dengannya – pada konferensi pers hari ini di Palais des Nations di Jenewa.”
Media www.rajawalisiber.com – Berdasarkan laporan terbaru dari UN Women, lebih dari 38.000 perempuan dan anak perempuan tewas di Gaza antara Oktober 2023 hingga Desember 2025. Angka ini mencakup lebih dari 22.000 perempuan dewasa dan 16.000 anak perempuan, dengan rata-rata sedikitnya 47 kematian setiap harinya.
Jenewa, 17 April 2026 – “Hari ini, UN Women memberikan penjelasan lebih lanjut tentang dampak besar perang di Gaza terhadap perempuan dan anak perempuan. Analisis baru kami menunjukkan bagaimana perang telah memengaruhi setiap aspek kehidupan, dengan dampak paling mengerikan terlihat pada skala kematian.”
“Antara Oktober 2023 dan Desember 2025, lebih dari 38.000 perempuan dan anak perempuan tewas di Gaza – akibat pemboman udara dan operasi militer darat Israel. Ini termasuk lebih dari 22.000 perempuan dan 16.000 anak perempuan, yang berarti rata-rata setidaknya 47 perempuan dan anak perempuan tewas setiap hari.”
“Perempuan dan anak perempuan menyumbang proporsi kematian yang jauh lebih tinggi daripada yang diamati dalam konflik sebelumnya di Gaza. Mereka yang terbunuh adalah ibu, anak perempuan, saudara perempuan, dan teman – sangat dicintai oleh orang-orang di sekitar mereka. Mereka adalah individu dengan kehidupan dan impian. Selama kunjungan saya ke Gaza pada bulan November, saya bertemu dengan orang-orang terkasih mereka – anak-anak, suami, dan cucu mereka yang telah dipaksa mengalami penderitaan yang ekstrem.”
Krisis ini telah menciptakan kondisi bertahan hidup yang ekstrem bagi mereka yang selamat:
- Kepala Rumah Tangga Baru: Perang telah mengubah struktur keluarga secara drastis, dengan puluhan ribu rumah tangga kini dipimpin oleh perempuan yang harus memikul beban ekonomi dan pengasuhan sendirian setelah kehilangan suami mereka.
- Kelaparan dan Penyakit: Sebagian besar populasi perempuan menghadapi tingkat kerawanan pangan bencana (Famine). Ibu-ibu di Gaza dilaporkan terpaksa merebus sisa-sisa makanan untuk memberi makan anak-anak mereka.
- Krisis Kesehatan dan Martabat: Kerusakan infrastruktur yang masif membuat akses ke layanan kesehatan dasar, termasuk kesehatan reproduksi dan produk sanitasi, hampir mustahil didapat.
Kisah Bertahan Hidup
Para perempuan di Gaza berbagi kesaksian tentang perjuangan mereka yang memilukan:
* Lamees Qaadan: Seorang ibu yang kehilangan suami dan keluarganya dalam pengeboman. Ia kini tinggal di tenda yang bocor dan seringkali terpaksa menidurkan putrinya yang berusia empat tahun dalam kondisi lapar karena tidak ada makanan yang tersisa.
* Niveen Adel: Ibu yang telah mengungsi lebih dari sepuluh kali dan kehilangan dua putrinya saat sekolah tempat mereka berlindung dibom. Ia mengungkapkan beban berat menjadi ibu sekaligus ayah tanpa penghasilan atau layanan dasar.
* Safa: Seorang ibu yang melahirkan di tengah kekacauan dan harus berjuang menjaga bayinya tetap hangat dan ternutrisi di dalam tenda di tengah kondisi lingkungan yang sangat buruk.
UN Women terus bekerja di lapangan bersama organisasi-organisasi yang dipimpin perempuan untuk memberikan bantuan penyelamatan nyawa dan mendesak pelaksanaan gencatan senjata secara penuh serta perlindungan bagi warga sipil.