‎GELOMBANG MERAH MAKIN MENINGKAT PERKEMBANGAN ANTARIKSA DAN POSTUR KEKUATAN TIONGKOK DI RUANG ANGKASA 

“Silakan ikuti video pembahasan nya dan bergabung dengan Proyek Keamanan Dirgantara CSIS untuk acara studio Dialog Strategis Ruang Angkasa yang membahas aktivitas peluncuran antariksa Tiongkok yang berkembang pesat dan implikasinya terhadap kesadaran domain ruang angkasa, keamanan, dan persaingan strategis. Bersama-sama, Jenderal (purnawirawan) John Raymond, Kepala Operasi Ruang Angkasa pertama Angkatan Luar Angkasa AS dan Penasihat Senior Terhormat (Non-residen) di Proyek Keamanan Dirgantara CSIS, dan Clayton Swope, Wakil Direktur Proyek Keamanan Dirgantara CSIS”

 

‎Media www.rajawalisiber.com – Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok telah mempercepat laju peluncurannya secara tajam, meningkat dari sekitar 35–40 peluncuran per tahun antara tahun 2018 dan 2020 menjadi hampir 95 peluncuran pada tahun 2025. Lonjakan ini disertai dengan peningkatan signifikan jumlah satelit yang ditempatkan ke orbit, serta perluasan pesat infrastruktur peluncuran Tiongkok di seluruh kemampuan milik pemerintah dan komersial.

‎Bersama-sama, Jenderal (purnawirawan) John Raymond, Kepala Operasi Ruang Angkasa pertama Angkatan Luar Angkasa AS dan Penasihat Senior Terhormat (Non-residen) di Proyek Keamanan Dirgantara CSIS, dan Clayton Swope, Wakil Direktur Proyek Keamanan Dirgantara CSIS, akan membahas apa yang diungkapkan tren ini tentang ambisi ruang angkasa Tiongkok. Diskusi ini akan mengeksplorasi seberapa efektif Amerika Serikat dan para mitranya dapat mengidentifikasi dan melacak peluncuran dan penempatan satelit Tiongkok, apakah kemampuan kesadaran situasional ruang angkasa saat ini dapat mengimbangi skala dan kompleksitas aktivitas di orbit yang semakin meningkat, dan peran penyedia komersial yang terus berkembang. Diskusi ini juga akan mempertimbangkan tantangan pelacakan terkini dan implikasi yang lebih luas bagi kebijakan, operasi, dan pengembangan kemampuan AS di seluruh Angkatan Luar Angkasa AS dan Komando Luar Angkasa AS.

‎Acara ini terlaksana berkat dukungan yang diberikan oleh LeoLabs.

———————————————

‎Sebagai lembaga nonpartisan, CSIS adalah lembaga pemikir keamanan nasional terkemuka di dunia.

‎‎Catatan Redaksi Aktivitas peluncuran antariksa Tiongkok mengalami perkembangan yang sangat pesat, menempatkannya sebagai kekuatan utama yang menyaingi Amerika Serikat (AS) pada 2025-2026. Dengan rencana lebih dari 100 peluncuran pada 2026, yang didominasi oleh sektor komersial, Tiongkok secara masif membangun infrastruktur orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit – LEO), sistem navigasi Beidou, dan stasiun luar angkasa Tiangong.

‎‎Dampak terhadap Kesadaran Domain Ruang Angkasa (Space Domain Awareness – SDA)

‎‎Kepadatan Orbit dan Manajemen Sampah: Lonjakan peluncuran, terutama konstelasi internet satelit komersial, meningkatkan risiko tabrakan di luar angkasa. Tiongkok merespons dengan meluncurkan satelit pelacak sampah seperti EYESAT (156 satelit) untuk meningkatkan manajemen orbit dan menghindari efek domino tabrakan.

‎‎Peningkatan Kemampuan Pengamatan: Tiongkok meluncurkan berbagai satelit eksperimental (seperti Shiyan-33) untuk mempelajari lingkungan luar angkasa dan memantau kondisi orbit, yang meningkatkan pemahaman mereka terhadap aset di angkasa.

‎Verifikasi Teknologi Baru: Melalui serangkaian misi, Tiongkok aktif menguji teknologi baru untuk meningkatkan efisiensi dan keamanan operasional sistem ruang angkasa mereka.

‎‎Implikasi terhadap Keamanan dan Warfighting

‎‎Teknologi Dual-Use: Banyak satelit Tiongkok memiliki fungsi ganda, digunakan untuk tujuan sipil maupun militer, seperti pengamatan bumi, deteksi bencana, dan intelijen.

‎Pencegahan Antariksa: Tiongkok memperkuat kemampuan pencegahan melalui sistem antariksa yang tangguh dan redundan. Peningkatan kemampuan ISR (Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) di orbit memungkinkan Tiongkok untuk melacak aset militer musuh, seperti gugus tugas kapal induk.

‎‎Pesawat Ruang Angkasa Dapat Digunakan Kembali (Reusable Rockets): Uji coba roket yang dapat digunakan kembali secara intensif pada 2026 bertujuan untuk mengurangi biaya dan meningkatkan frekuensi peluncuran, memberikan keunggulan logistik dalam situasi konflik.

‎Persaingan Strategis (China vs. AS)

‎Perlombaan Luar Angkasa Baru: Tiongkok mengejar kepemimpinan global melalui misi bulan (Chang’e-7) dan pendaratan manusia di Bulan sebelum 2030, menantang dominasi AS.

‎Dominasi Komersial dan AI di Orbit: Tiongkok merangsang sektor swasta, dengan perusahaan komersial kini mencakup lebih dari 60% peluncuran, bertujuan untuk membangun konstelasi satelit internet (serupa Starlink) dan mengejar teknologi AI di orbit.

‎‎Geopolitik di Ruang Angkasa: Luar angkasa dipandang sebagai perpanjangan persaingan strategis di darat (Taiwan, Laut Tiongkok Selatan), di mana Beijing berupaya mencegah penggunaan sistem luar angkasa AS (seperti Starlink) dalam potensi konflik.

‎‎Kesimpulan: Aktivitas luar angkasa Tiongkok bukan sekadar eksplorasi ilmiah, melainkan elemen integral dari strategi keamanan nasional dan diplomasi global yang bertujuan untuk menyamai atau melampaui kemampuan AS pada 2045.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *