“Jangan pernah menghapus sejarah dan Jujurlah pada sejarah”
Sejarah adalah pernyataan yang kuat yang menggarisbawahi pentingnya melestarikan pengetahuan tentang masa lalu kita, baik hal-hal baik maupun buruk
Media www.rajawalisiber.com – Rekam jejak Panglima Besar Sudirman dan Soeharto menunjukkan dua tokoh militer yang berperan krusial dalam sejarah Indonesia, dengan peran dan periode waktu yang berbeda.
Panglima Besar Sudirman:
Sudirman dikenal sebagai pemimpin militer sejati, pahlawan nasional, dan Bapak Gerilya Indonesia.
Karier Militer Awal: Memulai karier militer pada masa pendudukan Jepang dengan bergabung dalam Pembela Tanah Air (PETA) dan menjadi Komandan Batalion di Kroya.
Panglima TKR/TNI: Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ia terpilih sebagai Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR, cikal bakal TNI) pertama pada usia yang sangat muda, 29 tahun, dan dianugerahi pangkat Jenderal oleh Presiden Soekarno.
Perang Kemerdekaan: Memimpin pasukan dalam pertempuran penting, termasuk Pertempuran Ambarawa melawan pasukan Inggris dan Belanda.
Taktik Gerilya: Paling dikenal karena memimpin perang gerilya melawan Agresi Militer II Belanda, meskipun dalam kondisi kesehatan yang parah (menderita TBC dan hanya memiliki satu paru-paru). Strategi gerilya yang berpindah-pindah tempat terbukti efektif dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Wafat: Sudirman wafat pada 29 Januari 1950, tak lama setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, pada usia 34 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.
Soeharto:
Soeharto juga seorang jenderal besar yang berperan signifikan, baik di bidang militer maupun politik, terutama sebagai Presiden kedua Indonesia.
Karier Militer Awal: Soeharto juga memiliki latar belakang PETA dan meniti karier militer di Angkatan Darat setelah kemerdekaan.
Serangan Umum 1 Maret 1949: Sebagai Letnan Kolonel, ia memimpin pasukannya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, sebuah operasi militer penting yang menunjukkan eksistensi Republik Indonesia kepada dunia internasional.
Penumpasan G30S/PKI: Memainkan peran krusial dalam penumpasan Gerakan 30 September/PKI pada tahun 1965. Sebagai Panglima Kostrad, ia mengambil alih komando militer dengan cepat setelah insiden penculikan para jenderal.
Transisi Kekuasaan: Peristiwa G30S/PKI mengantarkannya pada kekuasaan politik, yang berpuncak pada penerimaan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dan pengukuhannya sebagai Presiden Republik Indonesia kedua, mengawali era Orde Baru.
Era Orde Baru: Selama 32 tahun masa pemerintahannya (1966-1998), Soeharto fokus pada stabilitas politik dan pembangunan ekonomi, yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu kisah sukses ekonomi di kawasan pada saat itu, meskipun masa pemerintahannya juga diwarnai kritik terkait pelanggaran HAM dan korupsi.
Singkatnya, Jenderal Sudirman dikenang sebagai pemimpin militer heroik di masa revolusi kemerdekaan dengan taktik gerilyanya,
sementara Soeharto adalah tokoh militer yang bertransisi menjadi pemimpin politik jangka panjang yang memimpin era pembangunan ekonomi Orde Baru.
Catatan Redaksi:
Sejarah berfungsi sebagai:
Pelajaran:
Memahami kesalahan dan keberhasilan masa lalu membantu kita membuat keputusan yang lebih baik di masa depan
Identitas: Sejarah membentuk identitas individu, komunitas, dan bangsa, dengan menghubungkan kita dengan warisan dan akar budaya kita.
Peringatan: Sejarah mengenang peristiwa tragis dan ketidakadilan untuk memastikan bahwa hal serupa tidak terulang kembali.
Inspirasi: Kisah-kisah keberanian, ketekunan, dan inovasi dari masa lalu dapat menginspirasi generasi mendatang.
Upaya pelestarian sejarah dilakukan melalui berbagai cara, seperti mendokumentasikan peristiwa secara tertulis, lisan, atau melalui artefak, serta memelihara situs dan monumen bersejarah. Semua ini penting untuk memastikan generasi mendatang dapat belajar dan mengambil manfaat dari pengalaman mereka yang mendahului kita. Redaksi