‎Makna & Filosofi “Ketawang Pangkur Ngrenas” Sebuah Tembang Ciptaan Pangeran Adipati Aryo Nartosabdho

“Ketawang pangkur ngrenas” “Karya Mangkunegara IV (Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Nartosabdho)”

‎Media www.rajawalisiber.com – “Ketawang Pangkur Ngrenas” adalah sebuah gending (lagu) klasik Jawa yang diciptakan oleh Mangkunegara IV, seorang tokoh penting dalam sejarah Mangkunegaran yang dikenal memiliki filosofi Jawa yang mendalam. Gending ini mencerminkan nilai-nilai luhur dan ajaran kehidupan yang terkandung dalam budaya Jawa.

‎Ketawang Pangkur Ngrenas: ‎Ini adalah judul gending, di mana “Ketawang” menunjukkan bentuk gending (lagu dalam gamelan Jawa), “Pangkur” adalah salah satu jenis metrum dalam tembang macapat (puisi Jawa), dan “Ngrenas” kemungkinan merujuk pada suasana atau makna yang terkandung dalam gending tersebut, mungkin berkaitan dengan perasaan haru atau sedih yang mendalam.

Mangku Negara IV: Beliau adalah penguasa Mangkunegaran yang memerintah pada abad ke-19. Beliau dikenal sebagai sosok yang bijaksana, cerdas, dan sangat peduli pada pengembangan budaya Jawa.

‎Makna & Filosofi Jawa: Mangkunegara IV dikenal sangat mendalami filosofi Jawa dan memasukkannya dalam berbagai karya, termasuk seni, sastra, dan kebijakan pemerintahan. Filosofi Jawa mengajarkan tentang keseimbangan hidup, harmoni dengan alam, dan nilai-nilai moral seperti kesabaran, kebijaksanaan, dan keikhlasan.

‎Gending “Ketawang Pangkur Ngrenas” dapat dipahami sebagai ekspresi filosofi Jawa melalui seni musik. Gending ini bukan hanya sebuah karya seni, tetapi juga sebuah pesan moral dan ajaran hidup yang disampaikan melalui keindahan alunan nada gamelan.

‎Pada masa pemerintahannya, pihak istana Mangkunegaran menulis kurang lebih 42 buku, di antaranya Serat Wedhatama, dan beberapa komposisi gamelan. Salah satu karya komposisinya yang terkenal adalah Ketawang Puspawarna, yang turut dikirim ke luar angkasa melalui Piringan Emas Voyager di dalam pesawat antariksa nirawak Voyager I tahun 1977. Atas jasa kepujanggaannya, khususnya dalam penulisan Serat Wedhatama.

‎Atas jasa kepujanggaannya, khususnya dalam penulisan Serat Wedhatama, Mangku Negaran IV mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana dari Pemerintah RI melalui Keppres RI nr. 33/TK/Tahun 2010 secara anumerta yang diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada perwakilan kerabatnya pada tanggal 3 November 2010.

‎Mangku Negara IV juga sempat menerjemahkan salah satu karya sastra Sunda Klasik berupa Wawacan yang berjudul Wawacan Panji Wulung karya Raden Haji Muhamad Musa yang ditulis tahun 1862 dari bahasa Sunda ke bahasa Jawa yang kemudian diterbitkan oleh Landsdrukkerij dalam bentuk buku pada tahun 1931. Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *