Media www.rajawalisiber.com – Kebocoran dari sistem pendingin (cooling tower) milik PT Linde Indonesia di Desa Roomo, Kecamatan Manyar, Gresik, mengakibatkan empat warga mengalami gangguan kesehatan. Peristiwa yang terjadi pada Selasa malam (29/7/2025) itu memicu kepanikan warga setelah partikel debu dari fasilitas produksi menyebar ke pemukiman dan jalan desa.
”Cooling Tower Pabrik Gas Milik PT Linde Indonesia di Gresik Diduga Bocor Sempat Sebabkan Warga Sesak Napas dan mata pedih.”
Empat warga Desa Roomo, Kecamatan Manyar, Gresik, Jawa Timur, dilarikan ke rumah sakit setelah terpapar hujan debu dan bau menyengat yang diduga berasal dari kebocoran cooling tower pabrik gas milik PT Linde Indonesia. Insiden tersebut terjadi pada Selasa (29/7/2025) malam WIB.
Keempat warga tersebut mengalami mata pedih dan sesak napas setelah menghirup partikel debu yang keluar saat kebocoran terjadi. Mereka segera dibawa ke Rumah Sakit Petrokimia Gresik untuk mendapatkan perawatan medis.
Kronologis kejadiannya 29 Juli 2025 pukul 10.00 wib dilakukan proses plant stabilization (liquid). Pukul 19.30 wib terjadi perlite released (kebocoran) dari casing coldbox yang menyebabkan debu beterbangan di wilayah Desa Roomo dan Desa Sukomulyo, Kecamatan Manyar, Gresik.
Pukul 21.00 wib puluhan warga Desa Romoo dan Desa Sidomulyo mendatangi PT Gresik Gases Indonesia (LINDE) karena beberapa warga mengalami sesak dan mata pedih.
Korban sementara ini sudah di lakukan perawatan di RS Petro kimia Gresik.
Catatan Redaksi:
Bisnis utama perusahaan ini adalah manufaktur dan distribusi gas atmosfer, termasuk oksigen , nitrogen , argon , gas langka , dan gas proses, termasuk karbon dioksida , helium , hidrogen , amonia, gas elektronik, gas khusus, dan asetilena .
Produk Linde digunakan dalam industri perawatan kesehatan, penyulingan minyak bumi, manufaktur, makanan, karbonasi minuman, serat optik, pembuatan baja, kedirgantaraan, peralatan penanganan material (MHE), kimia, elektronik, dan pengolahan air.
Kebocoran pabrik hidrogen hijau dapat memiliki beberapa dampak negatif, meskipun hidrogen hijau itu sendiri tidak beracun. Dampak utamanya adalah risiko asfiksia karena hidrogen dapat menggantikan oksigen di udara, serta risiko kebakaran dan ledakan karena sifat hidrogen yang mudah terbakar.
Selain itu, kebocoran hidrogen juga dapat berkontribusi pada pemanasan global karena hidrogen adalah gas rumah kaca tidak langsung, meskipun efeknya lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil.
Berikut penjelasan lebih detail mengenai dampak tersebut:
Asfiksia: Hidrogen adalah gas yang ringan dan mudah naik ke atas. Jika terjadi kebocoran di ruang terbatas, hidrogen dapat menggantikan oksigen, menyebabkan penurunan kadar oksigen di udara.
Jika konsentrasi oksigen turun di bawah tingkat aman, hal ini dapat menyebabkan asfiksia atau sesak napas pada manusia dan hewan.
Gejala awal asfiksia meliputi pusing, mual, dan kesulitan bernapas. Jika tidak ditangani, dapat menyebabkan kehilangan kesadaran dan bahkan kematian.
Kebakaran dan Ledakan: Hidrogen adalah gas yang sangat mudah terbakar. Campuran hidrogen dengan oksigen atau udara dapat menyala dan meledak dengan cepat jika terkena sumber api atau panas.
Ledakan hidrogen dapat menyebabkan kerusakan serius pada struktur dan peralatan di sekitar lokasi kebocoran, serta membahayakan keselamatan pekerja dan masyarakat sekitar.
Meskipun hidrogen memiliki energi penyalaan yang rendah dan laju penyalaan yang tinggi, ia juga mudah menyebar dan bercampur dengan udara, yang meningkatkan risiko ledakan.
Dampak Lingkungan: Meskipun hidrogen hijau dianggap sebagai energi bersih, kebocoran hidrogen dapat berkontribusi pada perubahan iklim. Hal ini karena hidrogen adalah gas rumah kaca tidak langsung, yang berarti dapat mempengaruhi konsentrasi gas rumah kaca lain di atmosfer, seperti ozon.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kebocoran hidrogen dalam jumlah tertentu dapat mengurangi manfaat lingkungan dari penggunaan hidrogen hijau sebagai pengganti bahan bakar fosil.
Selain itu, produksi hidrogen hijau juga memerlukan energi yang cukup besar, dan jika energi tersebut tidak berasal dari sumber terbarukan, maka dapat menghasilkan emisi karbon yang signifikan.
Risiko Teknis: Hidrogen cair, yang sering digunakan dalam aplikasi industri dan roket, tidak berbau dan tidak berwarna, sehingga sulit untuk mendeteksi kebocoran.
Sifat mudah menguap hidrogen juga membuatnya sulit untuk disimpan dan diangkut dalam jumlah besar.
Meskipun hidrogen dapat menyebabkan embrittlement pada logam (kerapuhan logam), yang dapat menyebabkan kegagalan struktural, namun hal ini dapat diminimalkan dengan menggunakan material yang tepat dan desain yang sesuai.
Untuk meminimalkan risiko yang terkait dengan kebocoran hidrogen, perlu dilakukan tindakan pencegahan yang komprehensif, termasuk:
Penerapan standar keamanan yang ketat dalam desain, konstruksi, dan pengoperasian fasilitas hidrogen.
Penggunaan teknologi deteksi kebocoran yang canggih dan handal.
Pelatihan yang memadai untuk pekerja dan masyarakat sekitar tentang potensi risiko hidrogen.
Pengembangan teknologi penyimpanan dan transportasi hidrogen yang lebih aman dan efisien.
Dengan mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat, potensi dampak negatif dari kebocoran hidrogen dapat diminimalkan, dan hidrogen hijau dapat menjadi solusi energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Redaksi