‎DAMPAK PAPARAN PENCEMARAN TUMPAHAN BATUBARA DI DERMAGA PELABUHAN DUKS & TUKS GRESIK

“Insiden tumpahan batubara saat proses bongkar muat dari kapal tongkang di dermaga DUKS (Dermaga Untuk Kepentingan Sendiri) maupun TUKS (Terminal Untuk Kepentingan Sendiri) di wilayah pelabuhan Gresik merupakan pelanggaran serius yang memiliki konsekuensi hukum, operasional, dan lingkungan yang ketat.” 

‎

‎Media www.rajawalisiber.com – Ketika batubara tumpah dari tongkang ke laut saat dibongkar menggunakan grab crane atau karena kebocoran dinding palka, pengelola TUKS/DUKS bersama pihak kapal wajib menjalankan prosedur tanggap darurat sesuai program Pelabuhan Hijau (Green Port) yang digencarkan oleh KSOP Kelas II Gresik

‎Ada beberapa lembaga independen, Organisasi lingkungan, dan institusi akademis yang secara aktif melakukan riset dan investigasi mengenai dampak pencemaran batubara di wilayah pesisir serta laut Selat Madura, termasuk kawasan industri Kabupaten Gresik.

‎Secara spesifik, penelitian terhadap dampak pencemaran batubara di laut umumnya dibagi menjadi dua aspek, yaitu dampak fisik (kesehatan & ekologi) dan dampak psikologis/sosio-ekonomi.

‎Dampak Fisik (Ekologi Laut dan Kesehatan)

‎Lembaga independen bersama jaringan akademis lokal sering melakukan advokasi dan pemantauan kualitas lingkungan di perairan Gresik. Riset mengenai dampak fisik tumpahan batubara di laut mengonfirmasi beberapa temuan krusial:

‎• Toksisitas Logam Berat: Riset menunjukkan batubara yang mengendap di dasar laut merilis senyawa kimia berbahaya seperti merkuri, timbal, dan tembaga. Zat ini diserap oleh fitoplankton dan terakumulasi pada ikan atau kerang yang ditangkap nelayan setempat.

‎• Kesehatan Fisik Pesisir: Debu batubara dari aktivitas bongkar muat kapal tongkang berkolerasi kuat terhadap tingginya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan gangguan kulit pada masyarakat pesisir di sekitar dermaga.

‎Dampak Psikologis dan Sosio-Ekonomi

‎Penelitian mengenai dampak psikologis di kawasan industri pelabuhan umumnya dikaji melalui pendekatan psikologi lingkungan dan sosiologi ekonomi. Otoritas daerah seperti Bappeda Kabupaten Gresik bekerjasama dengan universitas lokal (seperti Universitas Airlangga dan ITS) sempat menyusun kajian dampak industrialisasi terhadap masyarakat pesisir.

‎Dampak psikologis yang ditemukan meliputi,

‎• Sindrom Ketidakberdayaan (Helplessness): Nelayan tradisional mengalami stres psikologis dan kecemasan akibat penurunan pendapatan yang drastis. Mereka merasa tidak berdaya karena area tangkapan ikan (fishing ground) mereka rusak oleh sedimentasi batubara, namun tidak memiliki posisi tawar melawan korporasi besar.

‎• Konflik Sosial dan Depresi Ringan: Gangguan bau, kekeruhan air, serta hilangnya keindahan pantai menimbulkan rasa frustrasi kronis dan kecemasan jangka panjang terhadap kelangsungan masa depan keluarga nelayan.

‎‎Hasil riset dari lembaga-lembaga independen ini biasanya dijadikan basis oleh masyarakat atau kuasa hukum untuk melakukan tuntutan hukum atau mendesak penegakan regulasi yang lebih ketat kepada pihak KSOP Kelas II Gresik dan Kementerian Lingkungan Hidup.

‎Riset ilmiah mengenai bioakumulasi logam berat (the big three heavy metals: Pb, Cd, Hg) pada biota laut akibat tumpahan batubara dan aktivitas pelabuhan industri umumnya diterbitkan oleh universitas besar di Jawa Timur. Batubara curah yang tumpah ke laut membawa material halus yang melepaskan partikel logam berat saat mengendap menjadi sedimen dasar laut, yang kemudian diserap oleh biota filter feeder (seperti kerang dan tiram) maupun ikan pelagis.

‎Referensi jurnal, artikel ilmiah, dan laporan riset yang relevan yang dapat jadikan rujukan akademis:

‎Riset Bioakumulasi pada Kerang & Tiram di Perairan Gresik

‎• Judul: Studi Bioakumulasi Logam Berat (Pb, Cd, dan Hg) pada Tiram Crassostrea glomerata di Perairan Pantai Prigi Kabupaten Trenggalek dan Perairan Pantai Utara Kabupaten Gresik

‎• Sumber/Penerbit: Universitas Brawijaya.

‎• Temuan Utama: Penelitian ini menyoroti bahwa perairan pantai utara Gresik (kawasan pelabuhan dan industri) menunjukkan akumulasi logam berat Pb (timbal), Cd (kadmium), dan Hg (merkuri) yang tinggi pada tubuh tiram. Tiram hidup menetap dan bersifat filter feeder, sehingga menyerap polutan dari sisa bongkar muat batubara dan industri yang larut di air laut melampaui ambang batas KepMen LH No. 51 Tahun 2004.

‎• Akses Dokumen: Dapat ditelusuri di Repositori Ilmiah Universitas Brawijaya.

‎Riset Bioakumulasi pada Vegetasi dan Sedimen Pesisir Gresik

‎• Judul: Bioakumulasi Logam Berat Timbal, Tembaga, dan Seng pada Akar Mangrove Avicennia marina, Air, dan Sedimen di Perairan Panceng, Gresik

‎• Sumber/Penerbit: Journal of Marine and Coastal Science (JMCS), Universitas Airlangga.

‎• Temuan Utama: Menggunakan metode pengujian laboratorium modern (ICP-MS), riset ini membuktikan sedimentasi logam berat Timbal (Pb) dan Tembaga (Cu) di wilayah pesisir Gresik telah menumpuk sangat tinggi pada akar tanaman mangrove pembatas pantai, melampaui batas aman KepMen LH No. 22/2021.

‎• Akses Dokumen: Unduh draf jurnal melalui Unduhan Jurnal JMCS UNAIR.

‎‎Kajian Literatur Komprehensif Dampak Lingkungan Pelabuhan

‎• Judul: Literatur Review: Pencemaran Logam Berat di Pelabuhan Indonesia

‎• Penulis & Penerbit: Nanda Muhammad Razi, dkk., dalam Jurnal Laot Ilmu Kelautan.

‎• Temuan Utama: Artikel ilmiah ini merangkum berbagai kasus pencemaran di pelabuhan Indonesia (termasuk komoditas curah padat seperti batubara). Dijelaskan bahwa logam berat bersifat non-biodegradable (tidak bisa hancur), mengendap di dasar dermaga, merusak ekosistem makrozoobentos, dan masuk ke dalam rantai makanan manusia jika mengonsumsi seafood yang tercemar.

‎• Akses Dokumen: Teks lengkap tersedia di Jurnal Laot Ilmu Kelautan UTU.

‎Dampak Hukum-Ekologis Pembuangan Limbah Batubara di Laut

‎• Judul: Dampak Pencemaran Limbah Batu Bara Terhadap Ekosistem Laut Berdasarkan Hukum Internasional dan Hukum Nasional

‎• Sumber/Penerbit: Indo Jurnal Press.

‎• Temuan Utama: Fokus pada aspek multidimensi tumpahan batu bara. Secara biologis, limbah batubara merusak terumbu karang dan memicu bioakumulasi jangka panjang pada ikan. Secara hukum, hal ini melanggar London Convention 1972 serta UU Perikanan Indonesia karena memicu penurunan drastis hasil tangkapan nelayan tradisional.

‎• Akses Dokumen: Baca selengkapnya via Indo Jurnal Press – Jejak Digital

‎‎Cara Kerja Polusi Batubara Masuk ke Biota Laut (Sesuai Referensi):

1. ‎Sedimentasi: Batubara yang tumpah saat bongkar muat hancur menjadi partikel halus di dasar laut pelabuhan.

2. ‎Pelepasan Kimia: Air laut yang korosif melarutkan kandungan Timbal (Pb), Arsenik (As), dan Kadmium (Cd) dari bongkahan batubara tersebut.

3. ‎Filter Feeding: Kerang hijau atau kupang di sekitar dermaga menyaring air laut untuk makan, sehingga logam berat terserap menetap di jaringan dagingnya. Hal inilah yang membuat seafood di perairan tersebut berbahaya dikonsumsi jangka panjang

‎‎Catatan penting Analisis Risiko Hukum Korporasi: Mengulas penerapan asas Tanggung Jawab Mutlak (Strict Liability) sesuai Pasal 88 UU No. 32 Tahun 2009 (UUPPLH), di mana perusahaan bertanggung jawab atas dampak pencemaran tanpa memandang unsur kelalaian pengoperasian.

‎Sintesis Dampak Fisik & Bioakumulasi: Menjelaskan secara ilmiah alur larutnya logam berat (Pb, Cd, Hg) dari sedimentasi batubara pelabuhan ke dalam tubuh biota filter feeder (tiram/kerang) di pesisir Gresik [repository.ub.ac.id, e-journal.unair.ac.id].

‎Analisis Dampak Psikologis & Sosio-Ekonomi: Memetakan fenomena ketidakberdayaan (helplessness) dan stres fungsional yang dialami oleh nelayan akibat rusaknya daerah tangkapan (fishing ground).

‎Matriks Pengendalian Teknis Operasional: Panduan langkah preventif saat tongkang bersandar, operasional grab crane, hingga manajemen pembersihan palka palka kapal oleh vendor resmi.

‎Berdasarkan regulasi maritim dan lingkungan hidup di Indonesia, setiap kapal tongkang setelah membongkar muatan batubara di dermaga Pelabuhan Gresik wajib melalui proses pembersihan (cleaning). Dan bisa di lakukan oleh vendor perusahaan yang mempunyai ijin resmi dari pemerintah Indonesia. Redaksi

‎

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *