“Pada tingkat harga saat ini—Iran Light di ICE Brent +$2/bbl, ESPO di ICE Brent +$7/bbl, dan minyak mentah lepas pantai China di Dated Brent +$10s/bbl—margin teapot telah turun menjadi sekitar -$8 hingga -$10/bbl, menurut pelaku pasar. Akibatnya, impor minyak mentah Iran dari Tiongkok rata-rata mencapai 1,16 mb/d pada bulan April, turun dari 1,71 mb/d pada bulan Maret dan 1,57 mb/d pada bulan Februari.”

Media www.rajawalisiber.com – Pasar minyak global menghadapi defisit yang signifikan pada Mei–Juni 2026, didorong oleh berkurangnya pasokan dari Timur Tengah sebesar 6 juta barel per hari (mbd), sementara permintaan hanya mengalami revisi turun sekitar 1 juta barel per hari. Kendala pasokan yang parah ini, yang sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya konflik geopolitik di kawasan, telah menyebabkan defisit besar pada keseimbangan pasar.
Detail penting mengenai situasi pasar saat ini:
- Besaran Pengurangan Pasokan: Pengurangan sebesar 6 juta barel per hari (terkadang diperkirakan lebih tinggi, dengan potensi terkena dampak sebesar 7,9–10 juta barel per hari pada pasokan minyak mentah dan cairan) disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap infrastruktur energi.
- Respons Permintaan yang Terbatas: Meskipun permintaan menunjukkan tanda-tanda “kehancuran” akibat tingginya harga, perkiraan penurunan sebesar ~1 juta barel per hari masih jauh melebihi kekurangan pasokan.
- Defisit Pasar: Bahkan dengan pelepasan stok darurat (termasuk pelepasan 400 juta barel bersejarah oleh IEA), pasar masih berjuang dengan kekurangan fisik barel.
- Implikasi Harga: Analis telah menaikkan perkiraan harga minyak untuk Q2 2026, dengan beberapa skenario memperkirakan minyak mentah Brent akan mencapai $150 per barel, tergantung pada durasi gangguan pasokan.
Pasar saat ini sedang mengalami “negosiasi” antara kelangkaan fisik dan kemampuan ekonomi global untuk menyerap biaya energi yang tinggi, sehingga menyebabkan volatilitas yang tinggi.
Catatan Redaksi, Per Mei dan Juni 2026, pasar minyak global diperkirakan akan masuk ke dalam fase defisit yang signifikan. Kondisi ini dipicu oleh penurunan pasokan dari Timur Tengah sebesar ~6 juta barel per hari (Mbd) akibat hambatan logistik dan operasional, yang jauh melampaui revisi turun permintaan global yang hanya sebesar ~1 Mbd.
Dinamika Neraca Pasar Q2 2026
-Defisit Masif: Goldman Sachs memproyeksikan neraca minyak global akan berbalik dari surplus 1,8 Mbd pada 2025 menjadi defisit 9,6 Mbd pada kuartal kedua 2026.
-Guncangan Pasokan: Penutupan de facto Selat Hormuz sejak Maret telah menghentikan aliran minyak sekitar 14,5 Mbd, memaksa produsen Teluk untuk melakukan penutupan produksi (shut-ins) secara besar-besaran.
°EIA memperkirakan shut-ins produksi di Timur Tengah mencapai puncaknya pada April (9,1 Mbd) dan tetap tinggi pada Mei (6,7 Mbd) sebelum perlahan pulih.
-Penurunan Permintaan (Demand Destruction): Melambungnya harga produk olahan diperkirakan akan memangkas permintaan minyak global sebesar 1,7 Mbd pada Q2 2026, terutama di wilayah Asia dan Timur Tengah.
Proyeksi Stok dan Harga
- Penurunan Inventori: Stok minyak global dilaporkan menyusut dengan kecepatan rekor 11–12 Mbd pada April karena aliran dari Teluk terputus.
- Target Harga: Goldman Sachs menaikkan prakiraan Brent menjadi $90 per barel untuk Q4 2026, sementara dalam skenario terburuk (gangguan hingga Juli), harga bisa melonjak hingga $120–$150 per barel.
- Respon Kebijakan: Untuk memitigasi kekurangan, IEA dan negara-negara seperti Jepang berencana merilis cadangan minyak strategis mulai Mei 2026.
Wawasan pasar yang benar-benar dapat Anda percayai, Redaksi kami memberikan intelijen yang tidak memihak dan digerakkan oleh pakar yang membantu Anda melacak perkembangan pasar minyak mentah yang penting untuk analisis Anda sendiri. Perkiraan kami yang tepat memberdayakan keputusan perdagangan dan manajemen risiko yang lebih cerdas. Di saat terjadi konflik dan ketidakpastian geopolitik, data real-time kami membuat Anda tetap terdepan dalam menghadapi gangguan pasokan dan volatilitas harga.