Penghuni Asli Tanah JAWI (Jawa) Adalah Makhluk Ghaib Yang Meminta Tumbal Pada Para Pendatang

Sejarah awal kedatangan para pendatang ke tanah jawi yang mempersembahkan tumbal karna tanah Jawi punya semboyan atau pepatah Jawi:

” Jalmo moro Jalmo Pati yang di maksud siapapun yang masuk ke tanah Jawi pasti mati”

Sebagaimana Sejarah yang jarang di ketahui kebanyakan orang, penduduk alsi tanah jawi atau jawa adalah makhluk GHAIB dan Perkawinan antara keturunan putra adam dan keturunan raja raja ghaib penduduk jawi atau jawa. Oleh karena itu berhati hatilah warga pendatang jika leluhur leluhur jawi pada saatnya akan menagih janji janji pada para pendatang di bumi nusantara secara umum serta secara khususnya tanah Jawi  atau Jawa.

Penumbalan Tanah Jawi atau Jawa

Di awal Kisah ini menceritakan bagaimana awal mula Pulau Jawa diisi penduduk manusia. Juga dikisahkan bagaimana Empu Sengkala membantu memasang tumbal di Pulau Jawa yang angker sehingga menjadi aman untuk dihuni manusia.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.

Disadur ulang dan di kutib dari Heri Purwanto, Kediri, 10 Juli 2014

SEJARAH EMPU SENGKALA BERANGKAT KE PULAU JAWA

Ketika Batara Anggajali di tempat pembuatan senjata kahyangan menerima kedatangan Empu Sengkala yang hendak pergi bertapa di Pulau Jawi atas perintah Batara Guru.

Batara Anggajali pun membekali putranya itu dengan mengajarkan beberapa tambahan ilmu kesaktian dan nasihat kehidupan. Setelah dirasa cukup, ia lalu memberikan doa restu agar sang putra selalu mendapatkan keselamatan dalam perjalanannya.

Setelah berlayar menyeberangi lautan luas, Empu Sengkala akhirnya tiba di Pulau Jawa yang saat itu masih tersambung dengan Pulau Sumatra dan Pulau Bali.

Butuh waktu seratus tiga hari bagi Empu Sengkala untuk berkeliling menjelajahi pulau tersebut dari Tanah Aceh di ujung barat laut sampai ke Bali.

Pulau tersebut benar-benar sepi dan hanya dihuni oleh para makhluk halus, siluman, bekasakan, Gondoruwo serta Wewegombel, dan keturunan para lelembut lainya dan binatang buas.

Setelah selesai berkeliling, Empu Sengkala lalu membangun tempat tinggal di Gunung Dihyang, dengan diberi nama Padepokan Purwapada.

EMPU SENGKALA MENCIPTAKAN PENANGGALAN

Empu Sengkala mulai bertapa di Padepokan Purwapada. Karena daya perbawa kewibawaan yang ia pancarkan, tidak ada makhluk halus yang berani mengganggunya.

Setelah beberapa hari bertapa ia pun didatangi oleh Batari Srilaksmi yang memancarkan cahaya putih.

Batari Srilaksmi mengajarkan kepadanya ilmu Asmaragama, Asmaranala, Asmaratura, Asmaraturida, dan Asmarandana. Setelah Empu Sengkala memahaminya, ia pun kembali ke kahyangan.

Pada hari kedua, Empu Sengkala didatangi Batara Kala yang memancarkan cahaya kuning.

Batara Kala mengajarkan berbagai macam ilmu sihir, kemayan, dan panggendaman. Setelah Empu Sengkala memahaminya, ia pun kembali ke kahyangan.

Pada hari ketiga, Empu Sengkala didatangi Batara Brahma yang memancarkan cahaya merah.

Batara Brahma mengajarkan berbagai macam ilmu ramalan dan kemampuan melihat masa depan. Setelah Empu Sengkala memahaminya, ia pun kembali ke kahyangan.

Pada hari keempat, Empu Sengkala didatangi Batara Wisnu yang memancarkan cahaya hitam.

Batara Wisnu mengajarkan berbagai macam ilmu kesaktian dan siasat peperangan. Setelah Empu Sengkala memahaminya, ia pun kembali ke kahyangan.

Pada hari kelima, Empu Sengkala didatangi Batara Guru yang memancarkan cahaya mancawarna.

Batara Guru mengajarkan ilmu kesempurnaan dan ilmu panitisan. Setelah Empu Sengkala memahaminya, ia pun kembali ke kahyangan.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, Empu Sengkala kemudian membuat sebuah penanggalan yang dalam satu pekan terdiri atas lima hari,

Yaitu hari Sri, Kala, Brahma, Wisnu, dan Guru.

Pada hari Sri ia bersamadi menghadap ke timur, pada hari Kala bersamadi menghadap ke selatan, pada hari Brahma bersamadi menghadap ke barat, pada hari Wisnu bersamadi menghadap ke utara, dan pada hari Guru bersamadi menunduk ke bumi, serta mendongak ke angkasa.

Penanggalan yang diciptakan Empu Sengkala tersebut kemudian diberi nama Tahun Suryasengkala dan Tahun Candrasengkala.

Jika Suryasengkala didasarkan pada peredaran bumi terhadap matahari, maka Candrasengkala didasarkan pada peredaran bulan terhadap bumi.

SEJARAH PENDUDUK NEGERI RUM MENGISI PULAU JAWA

Tersebutlah raja Kerajaan Rum bernama Maharaja Galbah. Pada suatu hari ia memimpin pertemuan dengan dihadap sang putra bernama Pangeran Oto, dan menteri utama bernama Patih Amirulsamsu.

Yang dibicarakan adalah perihal mimpi Maharaja Galbah, yaitu ia mendapatkan perintah dari suara gaib agar mengisi Pulau Jawi di seberang lautan timur.

Pulau tersebut sangat subur namun hanya dihuni bangsa ghaib serta kaum bekasakan dan makhluk halus, tanpa ada manusia sama sekali di dalamnya.

Maharaja Galbah bertanya kepada para pendeta kerajaan dan mereka menjelaskan bahwa suara gaib dalam mimpi tersebut adalah perintah Tuhan Yang Mahakuasa agar dilaksanakan.

Maka, Maharaja Galbah pun mengutus Patih Amirulsamsu untuk memimpin sebagian penduduk Kerajaan Rum untuk pindah dan bermukim di Pulau Jawa.

Patih Amirulsamsu berangkat dengan membawa dua puluh ribu orang penduduk Rum menyeberang lautan luas.

Sesampainya di Pulau Jawa, orang-orang Rum tersebut bergotong royong membuka hutan dan mendirikan perkampungan. Setelah dirasa cukup, Patih Amirulsamsu lalu kembali untuk melapor kepada Maharaja Galbah.

Perlu di ingat pepatah Jawi “JALMO MORO JALMO PATI”

Sepeninggal Sang Patih, orang-orang Rum di Pulau Jawa banyak yang jatuh sakit dan meninggal karena tidak tahan hawa panas serta diganggu makhluk halus untuk di jadikan tumbal tumbal tanah Jawi, atau ada pula yang dimangsa binatang buas.

Dalam waktu tiga tahun saja yang tersisa hanya tinggal dua puluh orang dan mereka memutuskan untuk pulang ke Negeri Rum.

SEJARAH PANDITA USMANAJI BERANGKAT KE PULAU JAWA

Maharaja Galbah sangat sedih mendengar laporan bahwa dari dua puluh ribu orang yang menghuni Pulau Jawa hanya tersisa dua puluh orang saja dan mereka memilih pulang kembali ke Negeri Rum.

Patih Amirulsamsu berpendapat bahwa Pulau Jawa sangat sangat terlalu angker untuk ditempati manusia, dan untuk itu perlu dipasangi persembahan tumbal penakluk makhluk halus.

Sang Patih melaporkan bahwa di Negeri Bani Israil hidup seorang pendeta berilmu tinggi bernama Pandita Usmanaji yang kiranya bisa melaksanakan tugas berat ini.

Kerajaan Bani Israil sudah lama menjadi negeri jajahan Kerajaan Rum, sehingga Maharaja Galbah dapat leluasa memanggil Pandita Usmanaji untuk menghadap dan menerima perintah darinya.

Pandita Usmanaji tiba di kerajaan dan menyatakan siap melaksanakan perintah itu. Ia lalu mohon pamit berlayar ke Pulau Jawa dengan diiringi sejumlah pendeta lainnya.

SEJARAH EMPU SENGKALA MEMBANTU PENUMBALAN PULAU JAWA

Setelah berlayar beberapa bulan, rombongan Pandita Usmanaji akhirnya tiba dan mendarat di Pulau Jawa.

Berkat kesaktiannya, Pandita Usmanaji dapat merasakan bahwa di pulau tersebut ternyata ada seorang manusia sedang bertapa di Gunung Dihyang.

Didatanginya gunung tersebut dan ditemuinya sang pertapa, yang ternyata Empu Sengkala, muridnya sendiri.

Empu Sengkala sangat terharu dan gembira bisa bertemu sang guru di pulau sunyi ini. Ia pun menceritakan semua pengalaman hidupnya sejak berpisah dulu, antara lain pernah menjadi raja Kerajaan Surati dan akhirnya mendapatkan perintah dari Batara Guru untuk bertapa di Pulau Jawa.

Tak terasa sudah enam tahun lamanya Empu Sengkala bertapa dan ia pun sempat mendengar berita adanya orang-orang Rum yang bermukim di Pulau Jawa namun mengalami nasib malang meninggal dunia menjadi tumbal tumbal tanah Jawa.

Pandita Usmanaji lalu mengajak Empu Sengkala untuk membantunya memasang tumbal supaya Pulau Jawa yang angker menjadi lebih aman dan nyaman untuk ditempati manusia.

Mereka pun mulai bekerja, dengan memasang lima buah tumbal, yaitu yang empat ditanam di empat penjuru mata angin dan satu lagi dipasang di tengah-tengah pulau.

Setelah pemasangan tumbal selesai, Pandita Usmanaji dan rombongan membawa serta Empu Sengkala meninggalkan Pulau Jawa.

Hari berikutnya, terjadilah bencana alam di segenap penjuru pulau. Gempa bumi, gunung meletus, badai halilintar, disertai suara bergemuruh terjadi di mana-mana yang kemudian diikuti suara jerit tangis para makhluk jahat. Mereka pun berlarian menuju Laut Selatan untuk mencari perlindungan.

EMPU SENGKALA MENDAPAT PERINTAH DARI MAHARAJA GALBAH

Pandita Usmanaji tiba di Kerajaan Rum dan melaporkan keberhasilannya kepada Maharaja Galbah.

Maharaja Galbah juga sangat berterima kasih atas bantuan Empu Sengkala dan memberikan gelar Pandita Isaka kepadanya.

Pandita Usmanaji lalu mohon pamit pulang ke Negeri Bani Israil dengan mengajak Empu Sengkala ikut serta.

Di sana Empu Sengkala pun mendapatkan banyak tambahan ilmu pengetahuan dan ilmu kesaktian darinya.

Pada suatu hari Patih Amirulsamsu datang ke Bani Israil untuk menyampaikan surat perintah Maharaja Galbah kepada Empu Sengkala.

Bagaimanapun juga perintah Tuhan Yang Mahakuasa untuk menempatkan penduduk manusia di Pulau Jawa harus tetap dilaksanakan.

Hanya saja, perintah tersebut tidak menjelaskan bahwa yang harus ditempatkan di sana adalah penduduk Kerajaan Rum, sehingga Maharaja Galbah kini memerintahkan Empu Sengkala untuk mencari penduduk negeri lain yang cocok dengan keadaan Pulau Jawa sehingga bisa bermukim di sana dengan nyaman.

Empu Sengkala menyatakan bersedia dan ia pun mohon restu kepada Pandita Usmanaji, kemudian berangkat menuju ke timur.

EMPU SENGKALA MEMIMPIN PENGISIAN PULAU JAWA

Empu Sengkala tiba di Kahyangan Jonggringsalaka menghadap Batara Guru untuk meminta petujuk dalam melaksanakan perintah Tuhan Yang Mahakuasa melalui mimpi Maharaja Galbah tersebut.

Batara Guru selaku pemimpin tertinggi di Tanah Hindustan dan sekitarnya memberikan izin kepada Empu Sengkala untuk mengumpulkan orang-orang Keling, Benggala, dan Siam karena mereka memiliki tubuh yang cocok dengan keadaan alam di Pulau Jawa.

Empu Sengkala kemudian menemui ayahnya, yaitu Batara Anggajali. Sang ayah memberikan restu dan menyertakan putra-putranya yang lain untuk membantu pekerjaan Empu Sengkala tersebut.

Mereka adalah Empu Bratandang, Empu Braruni, dan Empu Braradya, yaitu anak-anak Batara Anggajali yang lahir dari istri kedua.

Empu Sengkala ditemani ketiga adiknya berlayar membawa dua puluh ribu orang yang mereka kumpulkan dari Keling, Benggala, dan Siam, sesuai perintah Batara Guru.

Setelah mendarat di Pulau Jawa, orang-orang itu kemudian diajak bergotong royong membuka hutan dan pegunungan untuk dijadikan tempat permukiman.

Setelah sepuluh tempat permukiman berdiri, Empu Sengkala lalu memilih sepuluh orang yang paling pandai di antara para penduduk untuk mendapatkan tambahan pelajaran darinya. Mereka bernama Jangga, Wisaka, Kutastaka, Malipata, Wiswandana, Kurmanda, Kusalya, Anuwilipa, Suskadi, dan Sarada.

Setelah mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan, kesepuluh orang itu lalu disebar untuk menjadi pemimpin para penduduk. Setelah dirasa cukup, Empu Sengkala pun kembali ke Negeri Rum, sedangkan ketiga adiknya kembali ke Tanah Hindustan.

EMPU SENGKALA MENINJAU PULAU JAWA

Tujuh belas tahun kemudian Empu Sengkala kembali mendapatkan perintah untuk berlayar ke Pulau Jawa.

Kali ini yang memberikan perintah adalah Maharaja Oto, yaitu putra Maharaja Galbah. Maharaja baru itu memerintahkan Empu Sengkala pergi meninjau keadaan Pulau Jawa sebagaimana wasiat terakhir Maharaja Galbah sebelum meninggal.

Jika penduduk Pulau Jawa sudah berkembang pesat dan hidup aman tenteram, tentu roh Maharaja Galbah bisa merasa tenang di alam baka.

Empu Sengkala lalu berangkat disertai sejumlah orang Rum sebagai pengiring. Setelah tiba di Pulau Jawa, mereka gembira melihat para penduduk semakin berkembang dan jumlah mereka meningkat pesat.

Orang-orang Rum yang datang tersebut menjadi tertarik dan sebagian dari mereka memilih untuk ikut menetap di Pulau Jawa.

Empu Sengkala lalu menunjuk seorang bernama Tamus untuk menjadi pemimpin orang-orang Rum yang menetap di Pulau Jawa. Setelah dirasa cukup, Empu Sengkala kemudian kembali ke Negeri Rum untuk menyampaikan laporan kepada Maharaja Oto.

EMPU SENGKALA MENDAPATKAN AIR KEABADIAN

Setelah menyampaikan laporan kepada Maharaja Oto tentang keadaan penduduk di Pulau Jawa, Empu Sengkala kembali menemui Pandita Usmanaji di Kerajaan Bani Israil.

Pada suatu malam ia bermimpi mendengar suara gaib yang menyuruhnya pergi ke Kutub Utara mencari sebuah tempat bernama Tanah Lulmat dan bertapa di sana. Setelah berunding dengan sang guru, ia pun mohon restu dan berangkat melaksanakan mimpi tersebut.

Setelah bersusah payah, Empu Sengkala akhirnya sampai juga di Tanah Lulmat. Setelah bertapa beberapa bulan, tiba-tiba muncul mustika awan yang memancarkan air keabadian Tirtamarta Kamandanu seperti yang pernah dialami Sayidina Anwar ribuan tahun silam.

Terdengar pula suara gaib yang memerintahkan Empu Sengkala untuk meminum air tersebut. Setelah meminumnya, Empu Sengkala seketika mendapatkan kehidupan kekal dan tetap awet muda selamanya.

Setelah itu, suara gaib kembali terdengar yang kali ini mengatakan bahwa kelak Empu Sengkala harus datang lagi ke Pulau Jawa untuk menumpas angkara murka dan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada penduduk di sana.

Namun peristiwa tersebut masih berselang ratusan tahun dari saat ini. Untuk menunggu datangnya saat itu, Empu Sengkala diperintahkan untuk tinggal di Tanah Hindustan sebagai brahmana.

Suara gaib tersebut kemudian menghilang tidak terdengar lagi. Empu Sengkala lalu meninggalkan Tanah Lulmat dan pergi menemui Pandita Usmanaji di Negeri Bani israil, untuk kemudian mohon pamit berangkat ke Tanah Hindustan. bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *